Jumat, 02 Oktober 2015



2.3 Jenis-jenis Kalimat
Menurut kusno (1986: 105) kalimat berdasarkan beberapa titik tinjauan sebagai berikut:
1.    Berdasarkan Isi atau Tanggapan yang Ditimbulkannya
a.       Kalimat berita; yaitu kalimat yang isisnya memberitahukan sesuatu, dan yang pada umumnya menimbulkan tanggapan bagi pendengar atau pembaca yang berupa isyarat atau sikap.
b.      Kalimat tanya; kalimat yang isisnya berupa pertanyaan, dan reaksinya berupa jawaban.
c.       Kalimat perintah; yaitu kalimat yang isisnya berupa perintah agar seseorang melakukan atau berbuat sesuatu, dan rekasinya berupa tindakan.
2.    Berdasarkan Jenis Kata yang Menduduki Fungsi Predikat
a.       Kalimat verbal; yaitu kalimat yang predikatnya berupa atau terjadi dari kata kerja.
b.      Kalimat nominal; yaitu kalimat yang predikatnya bukan kata kerja, mungkin kata sifat, mungkin kata keterangan, kata bilangan, atau jenis kata lain.
Contoh :
-          Gedung yang berada di dekat rumah saya, tinggi.( kata sifat)
-          Paman saya seorang tentara. (kata benda)
-          Ibu saya di luar kota.( kata keterangan)
-          Kucing bibi lima(ekor). (kata bilangan)
3.    Berdasarkan Susunannya atau Urutan Jabatannya
a.       Kalimat logis ; yaitu kalimat yang bersusun biasa, atau kalimat yang prediketnya didahului subjek(berpola DM).
Contoh :
-          Kemarin ayah berangkat ke luar negeri.
S          P
b.      Kalimat infersi ; yaitu kalimat yang predikatnya mendahului subjek, atau kalimat yang tersusun balik ( berpola MD).
Contoh :
1.      Inilah sekali pemandangan itu.
P                      S
4.    Berdasarkan Bentuknya
a.    Kalimat langsung ; yaitu kalimat yang sebagian unsurnya merupakan kutipan langsung dari pembicaraan atau kalimat yang diucapkan orang lain.
Contoh :
-          “siapa namamu?” tanya orang tua itu kepada anak kecil yang dijumpainya.
b.    Kalimat tak langsung ; yaitu kalimat yang memberitakan pembicaraan atau kalimat orang lain, tanpa mengutipnya secara langsung.
Contoh :
-          Orang tua itu menanyakan nama anak kecil yang dijumpainya.
5.    Berdasarkan Hubungannya dengan kalimat lain atau Berdasarkan Sifatnya
a.       Kalimat bebas ; yaitu kalimat yang mampu berdiri sendiri.
Contoh :
-          Tuti menangis.
b.      Kalimat terikat atau kalimat tak bebas; yaitu kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri.
Contoh :
-          Kemarin malam.
6.    Berdasarkan Unsur yang Membentuknya.
a.         Kalimat tak sempurna; yaitu kalimat yang dilihat dari bentuknya atau unsur yang dimilikinya, tidak sempurna.
1.      Kalimat elips; yaitu kalimat yang antara bentuk dan isisnya tidak seimbang.
Contoh : Pergi!
2.      Kalimat minim; yaitu kalimat yang hanya terdiri dari satu kontur.
3.      Kalimat minor; yaitu suatu kalimat yang hanya mengandung(terjadi dari) satu unsur inti atau unsur pusat.
Contoh : Hampir habis.
b.        Kalimat tunggal; yaitu kalimat yang unsur-unsur pembentuknya tunggal atau satu.
Contoh: Ayah membaca surat kabar di teras.
1.      Kalimat inti; yaitu kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti, atau kalimat yang hanya mengandung subjek dan predikat.(kalimat sederhana).
Contoh : Ali bekerja.
2.      Kalimat sempurna; yaitu kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh : Orang tuanya sedang dirawat di rumah sakit.
c.         Kalimat transformasi; yaitu kalimat yang merupakan hasil perubahan dari kalimat inti.
Contoh : Pemandangan indah.
d.        Kalimat majemuk ; kalimat yang didalamnya mengandung pola kalimat lebih dari satu.
1.      Kalimat majemuk setara(koordinat)
a.       Kalimat majemuk setara menjajarkan
-            Ibu menjahit baju di teras, ayah membaca surat kabar di ruang tamu, dan kaka mencuci sepeda
b.      Kalimat majemuk setara merapatkan (kalimat majemuk rapatan)
1.      Kalimat majemuk rapatan sama subjeknya
2.      Kalimat majemuk setara rapatan sama predikatnya
3.      Kalimat majemuk rapatan sama objeknya
4.      Kalimat majemuk rapatan sama keterangannya
5.      Kalimat majemuk rapatan sama subjek dan predikatnya
6.      Kalimat majemuk rapatan sama subjek, predikat, dan objeknya.
7.      Kalimat majemuk rapatan sama subjek dan keterangannya.
8.      Kalimat majemuk rapatan sama subjek dan objeknya.
2.      Kalimat majemuk bertingkat(subordinat)
a.       Menambahkan
-   Ia datang ke rumah saya. Saya sedang tidur.
+ Ia datang ke rumah saya ketika saya sedang tidur.
b.      Memperluas
-  Orang itu berkaca mata hitam.
c.       Menggantikan
-  Dia memanggil anda.
3.      Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk yang sekurang-kurangnya memiliki tiga pola kalimat, dua di antaranya sejajar dan pola yang lain bertingkat.
Contoh:
Saya telah membaca sebuah buku yang sangat menarik isinya dan baik sekali bahasanya.
Menurut abdul chaer(2007: 240) jenis kalimat dapat dibedan berdasarkan berbagai kriteria atau sudut pandang berdasarkan beberapa dikotomi pembagian:
1.    Kalimat inti dan kalimat non-inti
Kalimat inti biasa juga disebut kalimat dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap, bersifat deklaratif, aktif, atau netral, dan afirmatif. Sedangkan kalimat noninti yaitu kalimat inti + proses transformasi.
Contoh : - Nenek datang (inti)
-  Nenekku baru datang dari Paris.( non-inti)
2.    Kalimat tunggal dan kalimat majemuk
Kalau klausanya hanya satu, maka kalimat tersebut disebut kalimat tunggal. Kalau klausa di daslam sebuah kalimat terdapat lebih dari satu maka kalimat itu disebut kalimat majemuk.
Contoh:- Nenekku masih cantik.(tunggal)
-    Nenek melirik, kakek tersenyum dan adik tertawa-tawa.(majemuk)
3.    Kalimat mayor kalimat minor
Kalau klausanya lengkap, sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan prediket, maka kalimat itu disebut kalimat mayor. Kalau klausanya tidak lengkap, entah hanya terdiri dari subjek saja, objek saja, ataukah keterangan saja, maka kalimat tersebut kalimat minor.
Contoh :- Nenek berlari pagi.(mayor)
-  Sedang makan!(minor)
4.    Kalimat verbal dan kalimat non-verbal
Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal, atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berketegori verba. Sedangkan kalimat non-verbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal: bisa frase nominal, ajektival, adverbial, atau juga numeralia.
5.    Kalimat bebas dan kalimat terikat
Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap, atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap, atau menjadi pembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks.
Contoh :  - Sekarang di Riau amat sukar mencarai terubuk( bebas).
-   Jangankan ikannya, telurnya pun sangat sukat diperoleh( terikat)
2.4 Ciri – ciri Kategori Kata
Menurut iskak dan yustinah ( 2008:134) yang di kutip Dalam  Tata Bahasa baku Indonesia , kelas kata dibagi menjadi 5 kelompok , yaitu : verba ; nomina , pronomina, dan numeralia ; adjektiva ; adverbia ; dan kata tugas.
1.    Verba ( Kata Kerja )
Cirinya :
  • Verba berfungsi sebagai predikat/inti predikat dalam kalimat.
  • Verba mengandung makna dasar perbuatan, proses , atau keadaan yang bukan sifat.
  • Verba yang bermakna keadaan tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti paling.
Misalnya :
  • Pencuri itu lari.
  • Mereka sedang belajar di kamar.
  • Bom itu seharusnya tidak meledak.
  • Orang asing itu tidak akan suka masakan Indonesia.
Verba lari dan belajar mengandung makna perbuatan , verba meledak mengandung makna proses , sedangkan verba suka mengandung makna keadaan.
a.    Verba dilihat dari bentuknya :
  • Verba asal : berdiri sendiri tanpa afiks. Contoh , ada , datang , mandi , pergi , tinggal , tiba , turun.
  • Verba turunan
Verba turunan dibagi lagi menjadi tiga ketegori , yaitu :
  • Dasar bebas afiks wajib , seperti mendarat , melebar , mengering , membesar , berlayar , bersepeda.
  • Dasar bebas afiks manasuka , seperti membaca , membeli , mengambil , mendengar , berjalan , bekerja.
  • Dasar afiks wajib , seperti bertemu , bersua , menyelenggarakan , berjuang , mengungsi.
  • Reduplikasi , seperti bejalan – jalan , memukul – mukul , makan – makan.
  • Majemuk , seperti naik haji , cuci muka , mempertanggungjawabkan.
b. Verba dilihat dari semantiknya/ maknanya :
  • Verba transitif , diikuti objek , seperti jahit , baca , uji coba , dekatkan , lukiskan , perjelas , perbaiki.
  • Verba tak transitif , tidak diikuti objek , seperti kalah , jatuh , pulang balik , mengalir , menginap , mengarang , mengopi , berkeinginan , bergembira.
2. Nomina , Pronomina , dan Numeralia ( kata benda , kata ganti , dan kata bilangan )
a.       Nomina
Ciri – ciri nomina :
  • Sebagai subjek dalam kalimat yang predikatnya verba,
  • Dapat diingkari dengan kata tidak,
  • Dapat diikuti adjektiva.
Nomina dilihat dari bentuk dan makna:
  • Nomina dasar , seperti gambar , meja , rumah , pisau.
  • Nomina turunan , seperti perbuatan , pembelian , kekuatan.
b. Pronomina
Pronomina merupakan kta yang dipakai untuk mengacu pada nomina lain.
Jenis – jenis pronomina :
  • Pronomina pesona , seperti saya, engkau , dia , mereka , -nya.
  • Pronomina penunjuk , seperti ini , itu , sini , situ , sana.
  • Pronomina penanya , seperti apa, siapa , mana.
c. Numeralia
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud ( orang , binatang , barang , konsep ).
Jenis –jenis numeralia ;
  • Numeralia pokok , seperti dua, empat , delapan.
  • Numeralia pecahan , seperti seperdua , separuh , sebelah.
  • Numeralia tingkat , seperti kesatu , kesepuluh.
3. Adjektiva ( Kata Sifat )
Adjektiva adalah kata sifat atau keadaan yang dipakai untuk mengungkapkan kata sifat atau keadaan orang , benda , atau binatang.
Ciri – ciri :
  • Adjektiva dapat diberi keterangan pembanding , seperti lebih , kurang , paling.
  • Adjektiva dapat diberi keterangan penguat , seperti sangat , amat , terlalu.
  • Adjektiva dapat diingkari dengan kata tidak , seperti tidak bodoh , tidak benar.
  • Adjektiva dapat diulang dengan awalan se- , seperti sejelek – jeleknya.
  • Adjektiva berakhir dengan akhiran tertentu , seperti duniawi , negatif.
4. Adverbia ( Kata Keterangan)
Ciri – ciri :
Adverbia dalam bahasa Indonesia diklasifikasikan dengan mempertimbangkan bentuk , sintaksis , dan makna.
Bentuk adverbia :
Kelompok 1 : sangat , hadiam – diam , lekas – lekas , sedalam – dalamnya , sekuat – kuatnya , agaknya , habis – habisan , sebaiknya , sesungguhnya.nya , lebih , segera.
Kelompok 2 :
Sintaksis Adverbia :
Kelompok 1 : lebih tinggi , sangat indah.
Kelompok 2 : jelek benar , marah sekali.
Kelompok 3 : jangan lekas – lekas pulang.
Kelompok 4 : tinggi sekali , agak cantik.
Kelompok 5 : tiba – tiba sekali , kurang serempak.
Kelompok 6 : hanya petani , hanya guru.
Makna adverbia : agak , kurang , sering , dan selalu.
5. Kata Tugas
Jenis – jenis kata tugas :
  • Preposisi , seperti bagi , untuk , guna , dari , dengan.
  • Konjungsi , seperti dan , atau , tetapi , agar , supaya.
  • Interjeksi , seperti aduhai , astaghfirulloh , syukur.
  • Artikel , seperti sang , sri , hang , dang.
  • Partikel , seperti kah , lah.

2.5 Batasan Kategori  Kata
Dalam kamus-kamus bahasa inggris misalnya dicantumkan singkatan-singkatan seperti v. Yang berarti verb atau kata kerja; verb ini biasanya dibedakan lagi menjadi v.t. singkatan dari verb transitive atau katakerja transitif, v.i. singkatan dari verb intransitive atau kata kerja intransitif. Singkatan lain yang biasa dipergunakan untuk menunjukkan kelas kata adalah( Gorys Keraf, 2009: 53):
n          : Noun ( kata benda)
ad.      : Adjective ( kata sifat)
adv.     : Adverb ( kata Keterangan)
prep.    : Preposition ( kata depan)
conj.    : Conjuction ( kata Sambung)

2.6         Pembagian Jenis Kata
Adapun kesepuluh jenis kata itu( Kusno, 1986: 67) , adalah :
1.    Kata benda ( nomina)
2.    Kata kerja ( verba)
3.    Kata sifat ( adjectiva)
4.    Kata ganti( pronomina)
5.    Kata bilangan ( numeralia)
6.    Kata keterangan ( adverbia)
7.    Kata sambung ( conjunctio)
8.    Kata depan ( praepositio)
9.    Kata sandang ( articula)
10.    Kata seru ( interjectio)
 Berikut ini, masing-masing jenis kata tersebut akan diuraikan satu persatu.
2.6.1   Kata benda ( Nomina)
Menurut tata bahasa tradisional, kata benda adalah semua kata yang merupakan nama diri, nama benda, atau yang dibendakan. Dalam hubungannya dengan kalimat, kata benda pada umumnya menduduki jabatan subjek atau objek. Nama diri dan nama benda merupakan kata benda asli, yang pada umumnya berbentuk kata asal atau kata dasar. Sedangkan pengertian kata atau sesuatu yang dibendakan, adalah kata benda yang dibentuk dari jenis kata lain, baik melalui struktur morfologis maupun struktur sintaksis. Proses pembenadaharaan kata melalui struktur morfologis ialah dengan memberikan imbuhan-imbuhan tertentu pada jenis kata lain. Misalnya imbuhan pe-, ke-, pe-an, ke-an, -nya, -an, dan per-an. Proses pembendaan kata melalui struktur sintaksis ialah dengan meletakkan jenis kata tertentu dalam posisi atau jabatan subjek dan objek, serta dengan memanbahkan kata ganti tunjuk itu, ini kata ganti penghubung yang, dan kopula adalah di belakangnya.
Berdasarkan pengertian kata benda sesuai dengan uraian di atas, maka kita akhirnya dapat membagi kata benda atas :
a.    Kata benda kongkret; yaitu kata yang menunjuk benda atau sesuatu yang dapat dilihat atau diraba, baik yang berupa nama jenis ( kursi, sungai , laut , piring, dan sebagainya), nama diri ( Toto, Jawa, Kuda, Merapi, Jakarta, dan sebagainya), maupun nama zat( besi , minyak, intan, emas , dan sebagainya).
b.    Kata benda abstrak; yaitu kata yang menunjuk sesuatu yang tidak dapat dilihat atau diraba. Misalnya: iman , mental, hasrat, ilmu, nafsu, dan sebagainya.
c.    Kata yang dibendakan; yaitu kata benda yang dibentuk dari jenis kata yang lain: perjalanan, keramaian, keagungan, pemalas , kehendak, pelari, dan sebagainya, termasuk pembendaan melalui srtuktur sintaksis: bermain itu, tidur(menenangkan pikiran), belajar pun, dan sebagainya.
Selanjutnya, untuk memudahkan kita dalam menentukan apakah suatu kata dapat dimasukkan sebagai kata benda atau tidak, maka ciri-ciri yang dimiliki kata benda seperti dibawah ini perlu sekali kita perhatikan.
a.    Kata jadian yang dibentuk dengan afiks ke-, pe-, ke-an, pe-an, per-an, -an, dan –nya, dapat dicalonkan sebgai kata benda. Adapun sebagai penentu adalah ciri b dan c.
b.    Semua kat abenda dapat diperluas dengan menambahkan yang + kata sifat.
c.    Pada umumnya menduduki jabatan subjek atau objek da;am kalimat. Sebab, secara fungsional, kedua jabatan ini hanya dapat ditempati oleh kata benda. Oleh karena itu, apabila ada jenis kata lain yang menduduki kedua jabatan tersebut. Ditransposisikan menjadi kata benda dengan menambahkan kata atau partikel tertentu. Misalnya:
-       Melukis adalah pekerjaan yang rumit.
-       Tertawa itu sehat.
-       Beratnya tujuh puluh kilogram.
-       Belajar pun memerlukan metode.

2.6.2   Kata kerja( verba)
Kata kerja adalah kata yang menyatakan suatu perbuatan atau laku. Dilihat dari bentuknya, kata kerja dapat dibedakan atas:
a.    Kata kerja aktif; yaotu kata kerja yang berdasarkan bentuk katanya berawalan me-, atau ber-, sedangkan berdasarkan fungsinya dalam kalimat, kata kerja tersebut akan berfungsi sebagai prediket yang subjeknya melakukan pekerjaan.
Contoh : membaca, menangis, memakai, melangkah, berjalan, berpikir, berjualan, dan sebagainya.
b.    Kata kerja pasif; yaitu kata jerja yang berdasarkan bentuk katanya berawalan di-, ter-, atau ke- sesangkan berdasarkan fungsinya dalam kalimat, kata kerja tersebut akan menduduki jabatan predikat yang subjeknya dikenai pekerjaan atau perbuatan.
Contoh : dimulai, ditulis, tersentuh, terjatuh, kehujanan, kejatuhan, dan sebagainya.
c.    Kata kerja aus; yaitu kata kerja aktif yang tidak memerlukan awalan me-, atau ber-. Kata kerja ini dapat juga disebut kata kerja tanggap atau kata kerja mandiri, karena pekerjaan atau perbuatan tersebut mengenai diri sendiri. Dikatakan kata kerja aus, karena mula-mula kata kerja ini berawalan me-, tetapi oleh karena awalan tersebut tidak berfungsi, maka lama-kelamaan hilang atau aus tanpa disadari.
Contoh :
     Makan semula memakani diri;
     Tidur semula menidurkan diri;
     Demikian juga: pergi, bangun, minum, dan sebagainya.
Dalam hubungannya dengan fungsinya sebgai prediket dalam kalimat, maka kata kerja dapat dibedakan atas kata kerja transitif dan kata kerja intransitif. Kata kerja transitif adalah kata kerja yang memerlukan objek langsung, seperti: menulis, membeli, menjaga , mendirikan, diambil, dibawa, dipukul, dan sebagainya. Kata kerja intransitif adalah kata kerja yangg tidak memerlukan objek langsung, seperti: menangis, meludah, melangkah, berjanji, bekerja, terkejut, dan sebagainya. Di samping beberapa macam kata kerja seperti yang telah disebutkan di atas, berdasarkan arti yang dimilikinya, kita mengenal juga kata kerja resiproque ( resiprok), yaitu kata kerja yang menyatakan arti berbalas-balasan. Misalnya: berpelukan, berpandangan, pukul-memukul, tolong-menolong, berkejar-kejaran, bercubit-cubitan, dan sebagainya.
Sebagai pegangan untuk menentukan bahwa suatu kata disebut kata kerja, maka berikut ini adalah ciri-cirinya.
a.    Kata jadian yang dibentuk oleh afiks me-, di-, ber-, ter-, me-kan, di-kan, ber-an, memper-kan, diper-kan, memper-i, diper-i, dicalonkan sebagai kata kerja.
b.    Pada umumnya jarang atau tidak pernah menduduki posisi awal kalimat.
c.    Tidak dapat berdiri di belakang kata depan.
d.   Dapat didahului kata keterangan aspek, seperti: telah, sedang, akan, hampir, segera, dan sebagainya.
e.    Dapat diperluas dengan menambahkan kata dengan + kata sifat. Misalnya: berjalan dengan hati-hati, tersenyum dengan manis, atur dengan baik, dan sebagainya.
f.     Hampir tidak pernah menduduki subjek dalam kalimat.
Berdasarkan uraian di atas, kita dapat membedakan kata kerja, atas kata kerja yang berupa:
1.    Kata asal atau kata dasar: makan, minum, tidur, bela, tutup, bangkit, dan sebagainya.
2.    Kata jadian atau kata turunan: menangis, membaca, berjalan, dikirim, tertawa, memperingati, diperlakukan, dan sebagainya.
3.    Kata ulanga: duduk-duduk, jalan-jalan, mengangguk-angguk, bantu- membantu, dan sebagainya.
4.    Kata majemuk ( kata majemuk berimbuhan): membabi buta, bersimaharaja, menyebarluaskan, menyalahgunakan, dan sebagainya.

2.6.3        Kata sifat ( Adjektiva)
Kata sifat adalah kata yang menjelaskan kesifatan atau keadaan suatu benda atau yang dibendakan. Batasan ini meminta kepada kita untuk berhati-hati dalam menentukan kata mana yang termasuk kata sifat, dan mana yang tidak termasuk kata sifat. Kata baru dan rotan dalam hubungannya dengan kursi baru dan kursi rotan, sama-sama menenrangkan kata benda “kursi”. Demikian juga batu dalam kelompok kata tembok batu dan es batu, sama-sama menerangkan atau menjelaskan kata benda. Tapi bentulkah semuanya kata sifat? Tentu saja tidak. Karena kata rotan dalam kursi rotan dan batu dalam tembok batu, tidak menerangkan kesifatan kata benda. Dalam bahasa Indonesia, kata-kata semacam ini disebut pertalian antara kata benda dengan kata benda. Contoh lain adalah: buku cerita, cat air, lantai ubin, pantai karang, dan sebagainya. Karena sama-sama menerangkan kata benda, maka kata sifat maupun pertalian antara kata benda dengan kata benda, pada umumnua letaknya di belakang kata benda yang diterangkannya.
Adapun ciri-ciri yang dimiliki oleh kata sifat, antara lain:
a.    Dapat mengambil bentuk se + reduplikasi + nya : setinggi-tingginya, semudah-mudahnya, sekurang-kurangnya, sejauh-jauhnya, seadil-adilnya, dan sebagainya.
b.    Dapat dibentuk dengan prefiks ter- yang berarti paling : terkaya, tertinggi, terluas, terpanjang, terendah, dan sebagainya.
c.    Dalam pemebentukan frase, kata sifat dapat didahului kata agak, sangat, paling, lebih, cukup, dan dapat diikuti oleh kata sekali: agak bagus, sangat luas, paling kurang, lebih baik, cukup banyak, enak sekali, dan sebagainya.
Menurut bentuknya, kata sifat dapat berupa:
1.    Kata asal atau kata dasar: manis, mulia, subur, rusak, sakit, rendah, dan sebagainya.
2.    Kata jadian berimbuhan : menarik, terkenal, berharga, terhotmat, mengiurkan, dan sebagainya.
3.    Kata ukang: murah-murah, manis-manis, riuh-rendah, sunyi-senyap, setinggi-tingginya, dan sebagainya.
4.    Frase atau kelompok kata: sangat mahal, jauh sekali, panjang akal, tahan uji, buruk sangka, dan sebagainya.
5.    Kata serapan atau kata pungut : amoral, asosial, pancasilais, produktif, dan sebagainya.
Selanjutnya, dalam hubungannnya dengan kalimat, kata sifat dapat menduduki beberapa fungsi. Dengan bantuan kata atau imbuhan tertentu, kata sifat dapat menduduki fungsi sebagai subjek dalam kalimat. Sudah barang tentu, setelah menduduki jabatan subjek atau setelah ditambah dengan kata tugas atau imbuhan, mengalami transposisi menjadi kata benda.
Contoh :
-          Yang benar, sulit dicari.
-          Luasnya seratus meter persegi.
-          Merah itu tanda berani.
Selain dapat menduduki fungsi subjek, kata sifat dapat juga menduduki fungsi prediket dalam kalimat, baik secara infersif maupun secara logis. Dalam fungsinya yang demikian, maka antara kata benda atau yang dibendakan(subjek) dengan kata sifat yang mendududki fungsi prediket, tidak boleh diantarai kata tugas yang. Sebab kalau diantarai kata tugas yang, kata sifat tersebut akan bertindak sebagai atributif, yang fungsinya mengikuti kata benda yang diterangkannya. Bandingkan kalimat kelompok A dan B berikut :
A.1. Pakaiannya bagus sekali.
B.1. Pakaiannya yang bagus sekali itu hilang.
2. Adik saya sakit.
2. Adik saya yang sakit itu pandai menari.
3.    Harga sepatu mahal sekali.
3.Harga sepatu yang mahal sekali itu, tak terjangkau olehku.

Pemakaian kata sifat secara infersif, pada umumnya memulai suati kalimat. Oelh karena infersif, maka letaknya selalu didepan subjek.
Contoh :
-          Manis tutur katanya.
-          Cerdas pikirannya.

2.6.4   Kata Ganti ( Pronomina)
Kata ganti adalah semua kata yang dipakai untuk menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan. Menurut fungsinya, kata ganti dapat dibedakan atas:
a.    Kata ganti orang
Kata ganti orang dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1.    Kata ganti orang pertama:
-       Tunggal : aku, saya
-       Jamak : kami, kita
2.    Kata ganti orang kedua :
-       Tunggal : engkau, anda, kamu
-       Jamak : kalian, kamu
3.    Kata ganti orang ketiga
-       Tunggal : ia, dia, beliau
-       Jamak : mereka
Kata ganti seperti aku, engkau, dan kamu, masing-masing dapat diambil bentuk ringkasnya, yaitu ku, kau, mu. Dalam pemakaiannya, kata ganti yang mengambil bentuk ringkasnya itu selalu diikatkan pada kata yang mendahului atau yang mengikutinya, baik sebagai milik ( posessiva) seperti bukuku, bajuku, ayahmu, rumahmu ; maupun sebagai pelaku ( agensif) seperti kuambil, kubeli, kaubawa, kausimpan, dan sebagainya. Pemakaian kata ganti orang dalam kedua bentuk diatas (posesif dan agensif), disebut klitiksasi. Klitiksasi pada kata ganti yang menyatakan posesif, oleh karena letaknya di akhir kata, disebut enklitik. Sedangkan klitiksasi pada kata ganti yang menyatakan agensif, oleh karena letaknya di awal kata, disebut proklitik atau preklitik. Perlu diingat, bahwa proses klitiksasi pada kata ganti hanyalah yang mengambil bentuk ringkasnya. Bentuk klitik yang lain, misalnya pun pada kendatipun, walaupun, meskipun ; lah pada ialah, adalah.
Meskipun berdasarkan pesonanya kita telah membedakan kata ganti atas diri pertama, kedua, dan ketiga, serta bentuk jamak dan tunggal, namun sering kita jumpai pemakaian yang menyimpang dari pembagian tersebut. Kata kami misalnya, yang sebenarnya adalah kata ganti orang kesatu jamak, sering digunakan sebagai kata ganti orang kesatu tunggal, untuk menyatakan hormat atau pertimbangan sopan santun. Demikian juga kata kamu yang sebenarnya adalah kata ganti orang kedua jamak, namun sering digunakan sebagai kata ganti kedua tunggal, karena pengaruh emosional. Penympangan pemakaian kata ganti seperti kedua contoh diatas, dalam bahasa disebut pluralis majestatis.
Untuk memperjelas uraian di atas, perhatikan bagan berikut:
Bentuk
Orang I
Orang II
Orang III
Fungsi
Tunggal
Jamak
Tunggal
Jamak
Tunggal
Jamak
Pelaku(agensif)
Saya
Aku
Ku-
Kami
Kita
Engkau
Kamu
Anda
Kau
Kalian
Kamu
Ia
Dia
Beliau
Mereka
Di
Nya
Milik (posesif)
Saya
-ku
Kami
Kita
Kamu
-mu
Anda
Kalian
-mu
-nya
Dia
Beliau
Mereka
-nya

b.    Kata ganti milik ( posesif)
Kata ganti milik adalah kata ganti yang menyatakan fungsinya sebagai pemilik. Dalam pemakaiaannya dapata mengambil bentuk ringkas dan dapat mengambil bentuk sempurna. Yang mengambil bentuk riskas ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya, sedangkan yang m,engambil bentuk sempurna di tulis di belakang benda yang menjadi miliknya.
Contoh : pikiranku, uangmu, bukunya, tasku, adik saya, persoalan mereka, tas beliau, rumah kami, masalah kita, dan sebagainya.
Lihat uraian mengenai kata ganti orang.

c.    Kata ganti tunjuk( demostratif)
Kata ganti tunjuk adalah kata ganti yang berfungsi untuk menunjuk sesuatu. Berdasarkan sifat letak benda atau sesuatu yang di tunjuk, bahasa indonesia mengenal tiga macam kata ganti tunjuk, yaitu:
1.    Untuk menunjuk sesuatu yang dekat : ini, sini.
2.    Untuk menunjuk sesuatu tang agak jauh : itu, situ.
3.    Untuk menunjuk sesuatu yang jauh : ana, sana.
Berbeda dengan kata ganti tunjuk ini dan itu, maka kata ganti tunjuk ana sudah tidak digunakan lagi, dan diganti oleh kata ganti tunjuk sana, yang lebih cenderung pada penuntukan tempat. Demikian juga sini dan situ.
d.    Kata ganti penghubung ( relatif)
Kata ganti penghubung atau relative pronoun adalah kjata ganti atau kata yang berfungsi untuk menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat. Hubungan yang dinyatakannnya berupa penggantian sebuah kata atau lebih, yang terdapat pada induk kalimat. Kata ganti penghubung yang umum dalam bahasa Indonesia adalah yang, tempat, dan waktu. Hubungan yang dinyatakan oleh kata ganti penghubung yang, berupa penggantian kata benda yang terdapat pada induk kalimatnya.
Contoh :
1.    Buku yang disampul itu mahal harganya.
Kalimat majemuk tersebut, dibentuk dari kalimat dasar :
a.    Buku itu disampul.
b.    Buku itu mahal harganya.
Jadi kata yang pada kalimat I di atas, menggantikan kata ‘buku itu” yang terdapat pada kalimat b, karena kalimat b-lah yang berfungsi sebagai induk kalimat dalam kalimat majemuk I di atas.
Akan tetapi sifat hubungan itu kadang-kadang tidak terasa, dan akhirnya berubah sebagai pengganti atau penentu. Hal ini dapat kita lihat dalam contoh dibawah ini.
2.    Yang baik disimpan, yang jelek dibuang.
3.    Yang benar ditiru.
4.    Yang slaah dihindari.
Adapun hubungan yang dinyatakan oleh kata ganti penghubung tempat, berupa penggantian kata keterangan tempat.
Contoh :
5.    Rumah tempat mereka tinggal, terbakar habis.
Kalimat dasarnya adalah :
a.    Mereka tinggal di rumah.
b.    Rumah itu terbakar habis.
Jadi, kata tempat pada kalimat 5 di atas menggantikan kata rumah itu pada kalimat b, dan sekaligus menghubungkan anak kalimat a dengan induk kalimat b.
Karena pengaruh bahasa asing, sering kita jumpai pemakaian kata di mana sebagai ganti dari kata tempat yang diterjemahkan dari kata where. Selanjutnya, pemakaian kata di mana dalam pengertian yang demikian, sebagai kata ganti penghubung, adalah salah.
Contoh lain :
6.    Sekolah tempat mereka belajar, bertingkat.
7.    Meja tempat saya menulis, rusak berat.
Sedangkan  hubungan yang dinyatakan oleh kata ganti penghubung waktu, berupa penggantian terhadap kata keterangan waktu.
Contoh :
8.    Kemarin sore, waktu saya belajar, dia datang.
Kalimat dasarnya adalah :
a.       Kemarin sore ia datang.
b.      Kemarin sore saya belajar.
Seperti halnya kata ganti penghubung yang, kata ganti penghubung waktu fungsinya sebagai pengganti begitu tegasnya, sehingga sering dipakai sebagai penunjuk langsung terhadap kata keterangan waktu dalam suatu kalimat.
Contoh :
9.    Waktu saya datang, dia pergi.
10.              Waktu Gunung Merapi meletus, dia lahir.

e.    Kata ganti tanya ( introgatif)
Kata ganti tanya atau interrogative pronoun adalah kata yang digunakan untuk menanyakan sesuatu. Dilihatr dari isis pertanyaannnya, maka kata ganti tanya dapat dibedakan atas: pertanyaan mengenai benda(apa), orang(siapa), tempat ( di mana), waktu (bilamana, kapan, bila), jumlah ( berapa), tujuan ( ke mana), asal ( dari mana), keadaan( bagaimana), suatu peristiwa( ada apa, mengapa), alat ( dengan apa)m pemilihan atau penentuan( mana, yang mana, yang bagaimana).

f.      Kata ganti tak tentu ( indeterminatif)
Kata ganti tak tentu adalah kata yang menggantikan benda atau orang, secara tidak tentu. Kata ganti tidak tentu yang biasa digunakan dalam bahasa Indonesia adalah: sesuatu, seseorang, masing-masing, para, semua, beberapa, siapa saja, apa-apa, tiap-tiap. Kadang-kadang sifat ketidaktentuan itu begitu jelas, sehingga kita perlu berhati-hati dalam memakainya. Perhatikan kalimat berikut:
1.    Saya sedang memikirkan sesuatu persoalan.
Kalimat diatas oleh karena predikatnya memerlukan objek atau diikuti oleh objek yang sudah tentu, maka pemakaian kata sesuatu di situ, adalah pemakaian yang salah. Kata sesuatu tidak boleh diikuti oleh objek atau benda tertentu, berbeda dengan suatu. Bukan sesuatu peristiwa, sesuatu hari, melainkan suatu peristiwa dan suatu hari, dan sebagainya.
Disamping itu perlu kita perhatikan bahwa kata beberapa, semua, para, sekalipun merupakan kata ganti tak tentu, namun masing-masing menyatakan bentuk jamak. Oleh karena itu kata-kata tersevbut tidak boleh dipakai bersama-sama dengan kata ulang yang menyatakan jamak. Misalnya : para orang-orang, beberapa murid-murid, semua sekolah-sekolah.
Contoh lain pemakaian yang salah darikata ganti tak tentu:
2.    Arif adalah seseorang yang pandai.
3.    Masing-masing Ali dan Hasan, kurang menyadari kesalahannnya, kecuali: Masing-masing, Ali dan Hasan, kurang menyadari kesalahannya. Karena kata-kata yang diapit oleh tanda koma” Ali dan Hasan” dalam kalimat ini berfungsi sebagai aposisi atau keterangan tambahan, maka kata ganti tak tentu “ masing-masing” tersebut tidak secara langsung diikuti oleh orang atau sesuatu yang digantikan secara tentu.
2.2.5 Kata Keterangan ( Adverbia)
Di dalam uraian mengenai kata sifat, kita telah membicarakan bahwa kata sifat dan pertalian antara kata benda dengan kata benda, merupakan kata keterangan yang menerangkan mengenai kata benda. Oleh karena itu yang dimaksud “ kata keterangan” dalam sub-sub ini, adalah kata yang menerangkan selain kata benda. Mungkin kata kerja, kata sifat, kata keterangan itu sendiri dan mungkin kata yang lain.
Berdasarkan bentuknya, kata keterangan dapat dibedakan atas:
a.    Kata keterangan yang berupa kata asal atau kata dasar: sangat, agak, akan, sudah, paling, dan sebagaianya.
b.    Kata keteranagn yang berupa kata berimbuhan: kiranya, sesungguhnya, sesudah, bersama, bagaikan, dan sebagainya.
c.    Kata keterangan yang berupa kata gabung atau kata mejemuk: siang malam, kurang lebih, sepanjang masa, dan sebagainya.
Adapun dilihat dari arti yang dimilikinya, bukan dilihat dari bentuk atau jenis kata yang diterangkannya, kata keterangan dapat dibedakan menjadi:
a.    Kata keterangan tempat ; yaitu kata yang menerangkan tempat terjadinya suatu peristiwa, atau tempat beradanya sesuatu. Dalam bahasa indonesia kata keterangan ini dinyatakan oleh kata depan di, pada (untuk orang), dan dalam, yang diikuti olrh kata benda, seperti: disini, di rumah, di jakarta, pada saya, pada Ahmad, pada ayah, dalam lemari, dalam tas, dalam rumah, dan sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, kita kemudian mengenal juga kata keterangan tempat yang dinyatakan oleh kata depan ke sebagai tempat tujuan, seperti: ke sekolah, ke luar kota, ke sawah, dan sebagainya; dan yang dinyatakan oleh kata depan dari sebagai tempat asal, seperti: dari pasar, dari toko, dari luar negeri, dari rumah, dan sebagainya.
b.    Kata keteranngan waktu ; yaitu kata yang menerangkan waktu berlangsungnya atau terjadinya suatu peristiwa. Misalnya: sekarang, kemarin, besok, minggu yang lalu, bulan depan, pagi, malam, baru saja, nanti, setiap saat, sejak kemarin, dan sebgaainya.
c.    Kata keterangan kecaraan atau modalitas ; yaitu kata yang menerangkan sikap pembicara atas berlangsungnya suatu peristiwa atau kejadian, dalam bentuk:
1.      Kepastian : pasti, jelas, niscaya, bukan, tidak, dan sebagainya.
Kata” bukan” menyatakan kepastian pengingkaran terhadap kata benda, sedangkan kata “ tidak “ menyatakan kepastian pengingkaran kata selain kata benda.
Contoh :
-          Orang itu bukan adik saya.
-          Bukan buku yang dibeli.
-          Mereka tidak pergi hari ini.
-          Merokok itu tidak baik.
Namun dalam pemakaian sehari-hari, sering kita jumpai pemakaian kata “bukan” yang dinyatakan untuk mengingkari selain kata benda. Bahkan kata “bukan” dan “tidak” sering juga dipakai bersama-sama dalam suatu kalimat.
Contoh :
-          Itu bukan menangis namanya, melainkan tertawa.
-          Toko itu bukan menjual barang keperluan sehari-hari saja, tetapi juga keperluan kantor.
-          Saya bukan tidak mau, melainkan tidak tahu.
-          Orang tua itu bukan tidak percaya pada anaknya, melainkan tidak tega.
2.      Pengakuan: memang, benar, bahkan, ya, betul, dan sebagainya.
Kata “betul” dan “benar” seklaipun bersinonim, namun dalam pemakaiannya, keduanya dapat mendukung makna yang berbeda. Perhatikan kedua kalimat di bawah ini.
-          Guru membenarkan jawaban muridnya.
-          Guru membetulkan jawaban muridnya.
Pada kalimat pertama, kata “ membenarkan” berarti mengatakan benar atau menyetujuinya, sedang kata “membetulkan” pada kalimat kedua, berarti membuat jadi betul. Jadi pada kalimat pertama, sifat yang dinyatakan oleh kata dasarnya sudah ada, sedangkan pada kalimat kedua, sifat yang dinyatakan oleh kata dasarnya belum ada.
3.      Kesangsian : agaknya, barangkali, mungkin, jangan-jangan, kira-kira, kalu-kalau, dan sebagainya.
4.      Keinginan : semoga, mudah-mudahan, bisalah kiranya, sekiranya dan sebagainya.
5.      Ajakan : mari, ayo, hendaknya, baik, dan sebagainya.
6.      Larangan : jangan, jangan sampai, jangan sekali-kali, dan sebagainya.
7.      Keheranan : astaga, masakan, aman bisa, dan sebagainya.

d.      Kata keterangan aspek ; yaitu kata yang menerangkan berlangsungnya suatu peristiwa atau kejadian secara objektif. Atau dengan kaat lain, kata keterangan aspek adalah kata yang menerangkan posisi atau kedudukan (status) suatu perbuatan atau kejadian/peristiwa. Bukan menerangkan berlangsungnya suatu peristiwa/kejadian atau perbuatan dalam suatu ruang waktu – seperti yang dinyatakan oleh keterangan waktu.
Berdasarkan arti yang dimilikinya serta fungsi yang dinyatakannya, kata keterangan aspek dapat dibedakan atas:
1.      Keterangan aspek inkoatif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa masih dalam taraf permulaan:
-          Pembangunan pun dilaksanakan.
-          Anak itu pun belajarlah.
2.      Keterangan aspek duratif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa sedang dalam proses terjadinya: sedang, tengah, sementara.
3.      Keterangan aspek perfektif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa telah terjadi: telah, sudah, baru (saja).
4.      Keterangan aspek momental ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa yang terjadi dalam waktu singkat: tiba-tiba, sekonyong-konyong, mendadak.
5.      Keterangan aspek repetitif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa terjadi berulang kali atau lebih dari satu kali. Kata keterangan aspek jenis ini, dinyatakan oleh kata ulang yang mengandung makna intensitas : menggeleng-geleng, mengangguk, angguk, melambai-lambai, dan sebagainya.
6.      Keterangan aspek frekuentatif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa sering terjadi : sering.
7.      Keterangan aspek kontinuitas ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa selalu terjadi ; selalu, terus, terus-menerus.
8.      Keterangan aspek futuratif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa akan terjadi: akan, hendak.
9.      Keterangan aspek habituatif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa biasa terjadi : biasa.
e.       Kata keterangan kualitatif ; yaitu kata yang menerangkan keadaan atau pelaksanaan atau terjadinya suatu peristiwa atau perbuatan. Misalnya:
-          Ia mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh.
-          Percobaan itu dikerjakan dengan teliti.
-          Didorongnya pintu itu kuat-kuat.
f.       Kata keterangan derajat atau kuantitatif ; yaitu kata yang menerangkan derajat atau jumlah suatu peristiwa atau perbuatan dilakukan atau terjadi: hampir, cukup, sedikit, hanya, satu kali, dua kali, beberapa kali, dan sebagainya.
g.      Kata keterangan alat ; yaitu kata yang menerangkan, dengan apa suatu peristiwa terjadi atau dilakukan. Misalnya :
-          Orang tua itu menangkap ular dengan tenaga dalam.
-          Ibu memotong roti dengan pisau dapur.
-          Orang itu menyebrangi sungai selebar itu hanya dengan sebatang kayu.
h.      Kata keterangan syarat ; yaitu kata keterangan yang menerangkan bahwa suatu peristiwa atau kejadian, berlangsung di bawah syarat-syarat tertentu : jika, seandainya, kalau , apabila.
Dalam perkembangan selanjutnya, sering kita jumpai pemkaian kata “ jikalau” untuk menyatakan keterangan syarat. Apabila kita lihat strukturnya, kata tersebut sebenarnya merupakan bentukan kontaminasi dari kata :” jika” dan “ kalau” yang masing-masing mempunyai makana yang sama. Oleh karena itu, bentuk yang demikian ini adalah bentuk yang salah.

i.        Kata keterangan sebab ; yaitu kata yang menerangkan sebab atau mengapa suatu peristiwa terjadi: sebab, karena, oleh sebab, oleh karena, dan sebagainya.
j.        Kata keterangan akibat ; yaitu kata keterangan yang menerangkan bahwa suatu peristiwa terjadi akibat berlangsungnya peristiwa yang lain : sehingga, maka, oleh sebab itu, oleh karena itu, akibatnya, dan sebagainya.
k.      Kata keterangan perwatakan ; yaitu kata yang menerangkan atau menunjukkan batas-batas tertentu yang terlibat dalam suatu peristiwa atau kejadian: kecuali, hanya, selain. Misalnya:
-          Semua anak ikut berdarmawisata kecuali yang sakit.
-          Mereka kelihatan rajin, hanya Ali yang malas.
-          Peralatan rumah tangganya dibuat sendiri, selain barang pecah belah.
l.        Kata keterangan penyerta ; yaitu kata yang menerangkan bahwa sesuatu atau seseorang ikut srrta dalam suatu peristiwa atau perbuatan: serta, dengan, bersama.
m.    Kata keterangan tujuan ; yaitu kata yang menerangkan tujuan atau sesuatu yang hendak dicapai oleh suatu perbuatan : untuk, supaya, agar, guna, buat.

2.6.6   Kata Bilangan ( Numeralia)
Kata bilangan adalah semua kata yang menyatakan jumlah, kumpulan, dan urutan atau tingkatan suatu benda atau sesuatu yang dibendakan.
Berdasarkan sifat yang dimilikinya, kita dapat membedakan kata bilangan atas:
a.    Kata bilangan utama: satu, dua, tiga, empat, lima, dan seterusnya.
b.    Kata bilangan tingkat : kesatu, kedua, kelima, kesembilan, keseratus, dan sebagainya.
c.    Kata bilangan kumpulan : kedua, ketiga, kelima belas, kedua puluh, dan sebagainya.
d.   Kata bilangan himpunan: satu-satu, dua-dua, lima-lima, sepuluh-sepuluh, dams ebgaianya.
e.    Kata bilangan tak tentu : semua, sekalian, beberapa, tiap-tiap, masing-masing, dan sebagainya.
Dari contoh diatas, kita memang tidak dapat membedakan antara kata bilangan kumpulan dengan kata bilangan tingkatan. Sebab, berdasarkan pedoman umum ejaan yang disempurnakan, keduanya mempunyai sistem penulisan yang sama. Akan tetapi dalam hubungannya dengan kalimat, keduanya menunjukkan ciri yang berbeda. Sebab kata bilangan kumpulan letaknya pasti di depan kata benda, sedangkan kata bilangan tingkatan letaknya pasti di belakang kata benda atau yang dibendakan.
Khusus mengenai kata bilangan tak tentu, seperti beberapa, semua, dan sekalian, oleh karena itu ketiganya menunjukkan arti banyak ( tak tentu), maka kata-kata tersebut tidak boleh dipakai bersama-sama dengan kata ulang yang berarti intensitas kuantitatif seperti: buku-buku, anak-anak, meja-meja, rumah-rumah, dan sebagainya. Misalnya :
-       Semua buku-bukunya disampul rapi.
-       Saudara-saudara sekalian, kita . . .
-       Beberapa anak-anak, datang terlambat.
Kadang-kadang dlam pemakaiannya, kata bilangan memerlukan kata bantu tertentu sesuai dengan macam benda yang disebutkannya, terutama dalam menunjukkanj jumlah. Kata yang membantu kata bilangan dalam menunjukkan macam atau jenis benda yang disebutkan itu, dinamakana kata bantu bilangan. Misalnya: sepucuk surat, sebentuk cincin, sebilah pisau, seutas tali, selembar kain/uang, sebutir telur, setangkai bunga, serumpun bambu/bunga, seekor kerbaui, sebidang tanah, seulas senyum, dan sebagainya.
2.6.7        Kata sambung atau Kata Penghubung (Conjuctive)
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan kata/kelompok kata/kalimat yang satu dengan kata/kelompok kata/kalimat yang lain, dan sekaligus menunjukkan jenis atau macam hubungannya.
Berdasarkan sifat atau macam hubungan yang dinyatakannya, kata penghubung atau kata sambung dapat dibedakan atas:
a.    Kata penghubung yang menyatakan hubungan penggabungan: dan, lagi, pula, serta, dengan, lagi pula, dan sebagainya.
b.    Kata penghubungan yang menyatakan hubungan penentangan: tapi, tetapi, namun, melainkan, akan tetapi, dan sebgaianya.
c.    Kata penghubung yang menyatakan hubungan waktu: waktu, ketika, sesudah, sebelum, sejak, selama, bila, dan sebagainya.
d.   Kata penghubung yang menyatakan hubungan penujuan : supaya, agar, biar, untuk, dan sebagainya.
e.    Kata penghubung yang menyatakan hubungan sebab : sebab, karena, oleh karena, oleh sebab.
f.     Kata penghubung yang menyatakan hubungan akibat: maka, sehingga, sampai , oleh karena itu, oleh sebab itu.
g.    Kata penghubung yang menyatakan hubungan persyaratan : kalau, juka, asalkan, asal, seandainya, dan sebagainya.
h.    Kata penghubung yang menyatakan hubungan pemilihan : atau, atau...atau...,...maupun....entah....entah....,... apa... dan sebagainya.
i.      Kata penghubung yang menyatakan hubungan pembandingan : seperti, laksana, bagaikan, serasa, seakan-akan, bagai, dan sebgaianya.
j.      Kata penghubung yang menyatakan hubungan peningkatan : makin, makin...makin..., kian...kian..., dan sebagainya.
k.    Kata penghubung yang menyatakan hubungan lain dari semestinya atau perlawanan: meskipun, walaupun, biarpun, kendatipun, dan sebagainya.
l.      Kata penghubung yang menyatakan hubungan penjelasan atau menerangkan.kopula : ialah, yaitu, yakni, dan sebagainya.
Namun demikian perlu kita ketahui, bahwa bentuk hubungan dalam suatu kalimat, baik antar kelompok kata maupun antar kalimat dalam kalimat majemuk, tidak selalu dinyatakan oleh kata penghubung. Ada kalanya, kalimat dengan susunan tertentu atau dengan pemakaian tanda baca tertentu, telah menunjukkan adanya hubungan tertentu pula. Perhatikan hubungan yang demikian, dikatakan secara implisit atau tersirat, perhatikan kalimat berikut:
-       Pagi hari ia ke Bandung, siang ke jakarta, malam ke Surabaya.
-       Ia sendiri pandai, adiknya kurang.
-       Ibunya datang dari pasar, ayahnya berangkat ke kantor.
Disamping yang telah disembutkan diatas, bahkan untuk menyatakan hubungan antar kalimatdalam suatu paragraf , sering dipakai jenis kata lain atau imbuhan tertentu. Perhatikan contoh berikut ini!
Anak itu bernama Burhan. Ayahnya dulu seorang seniman kenamaan. Karya –karyanya sering mendapat penghargaan dari dalam maupun luar negeri. UNESCO umpamanya, pernah memberikan penghargaan atas cerita pendeknya. Hal itu diketahuinya dari buku harian bapaknya yang ditemukan.
Semua kata atau imbuhan ( kata ganti) yang dicetak miring, menunjukkan adanya hubungan antar kalimat atau bahkan antar paragraf.
2.6.8   Kata Depan( Preposisi)
Kata depan yang disebut juga kata perangai, adalah kata yang berfungsi untuk merangkaikan kata/kelompok kata yang satu dengan kata/kelompok kata yang lain dalam suatu kalimat, dan sekaligus juga menentukan macam arau jenis hubungannya. Pada umumnya, kata depan merangkaikan kata benda atau yang dibendakan dengan jenis kata yang lain. Dan oleh karena fungsinya sebagai kata, maka penulisannya harus selalu dipisahkan dengan kata lain yang mengikutinya.
Disamping fungsi umum yang dimilikinya seperti yang telah disebutkan dalam batasan diatas, yaitu merangkaikan kata benda dengan kata lain, kata depan secara khusus juga mempunyai beberapa fungsi. Antara lain:
a.    Untuk menyatakan tempat : di, ke, dari, pada ( untuk orang), antara, atas, dan sebagainya.
b.    Untuk menganrat objek tak langsung: untuk, bagi, akan, tentang, buat, kepada , dan sebagainya.
Selanjutnya, melihat arti yang didukungnya dan melihat fungsi yang dimilikinya, maka kata depan tidak boleh dipakai sebagai pengantar subjek dalam kalimat. Sebab, subjek yang diberi berpengantar kata depan, akan hilang ciri dan sifatnya sebagai subjek. Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini.
-       Bagi para pelajar sangat memerlukan ketenangan dalam belajar.
-       Setiap hari sabtu di sekolah kami, mengadakan latihan olah raga.
-       Dalam buku itu menceritakan perjuangan kaum wanita dimasa revolusi.
Dari contoh diatas, jelaslah bahwa ”para pelajar” , “sekolah kami”, dan “buku itu” yang masing-masing berfungsi sebagai subjek, tetapi oleh karena didahului oleh kata depan, maka fungsi yang dimilikinya berubah, dan kalimat itu menjadi kalimat yang salah. Akibatnya, apabila kita ingin tetap mempertahankan pemakaian kata depan-kata depan tersebut, dan sekaligus hendak membentuk ketiga kalimat diatas menjadi kalimat yang benar maka kita harus mengangkat sebuah subjek baru, dengan jalan mengubah bentuk kata yang berfungsi sebagai prediket. Atas dasar itu, maka akan kita jumpai kalimat sepseri di bawah ini.
-       Bagi para pelajar, sangat diperlukan ketenangan dalam belajar.
-       Setiap hari Sabtu, di sekolah kami diadakan latihan olah raga.
-       Dalam buku itu diceritakan perjuangan kaum wanita di masa revolusi.
Dengan demikian, maka” ketenangan dalam belaja”, “latihan olah raga”, dan “ perjuangan kaum wanita di masa revolusi”, berfungsi sebgai subjek dalam masing-masing kalimat tersebut.
Adapun dilihat dari nentuknya, kata depan dapat dibedakan atas:
a.    Kata depan yang berupa kata tunggal (asal) : di, ke, dari, pada, tentang, atas, akan, untuk, pada, dan sebagainya.
b.    Kata depan yang berupa gabungan kata: di dalam, kepada, daripada.
c.    Kata depan yang berasal dari jenis kata lain, yang pada umumnya adalah kata kerja: menurut, mengingat, mengenai, melalui, sampai, dan sebagainya.
Akan tetapi dari kata depan-kata depan tersebut, ada beberapa yang sifatnya ambivalen, yang artinya disamping sebagai kata depan, dalam hubungannnya dengan kalimat, juga menduduki jenis kata lain. Atau dengan kata lain kata yang bersifat ambivalen adalah kata yang memiliki lebih dari satu fungsi. Berikut ini adalah beberapa contoh kata depan yang bersifat ambivalen.
-       Anak itu lupa akan tugasnya(pengantar objek).
-       Persoalan itu akan diselesaikan besok( menyatakan aspek futuratif).
-       Mereka datang dengan mobil sewaan( menyatakan alat/keterangan alat).
-       Kemarin ayah pergi keluar negeri dengan adik ( pengantar objek).
-       Ada beberapa peristiwa penting dalam minggu ini( keterangan waktu).
-       Sumur di belakah rumah itu dalam sekali( menyatakan sifat).

2.6.9        Kata Sandang ( Artikula)
Kata sandang, adalah kata yang berfungsi sebagai penentu, yang ketaknya di depan kata benda atau yang dibendakan, atau di depan kata sifat. Hanya ada beberapa kata sandang dalam bahasa indonesia, yang masih sering digunakan. Yaitu si, sang, yang, dan para. Dalam bahasa melayu, khususnya dalam kekusastraan lama, kita temui beberapa kata sandang seperti : dang, hyang, hang, dan sri.
Adapun ari yang dapat didukung oleh kata sandang , antara lain:
a.    Pengakraban :
-  Si maman baru saja datang dari luar kota.
-  Titip salam untuk sang istri.
-  Cepat pulang , yang dirumah sudah menunggu.
b.    Penghormatan :
-  Berkibarlah Sang merah putih dengan megahnya.
-  Semua itu, terserah pada Yang Mahakuasa.
c.    Mengejek :
-  Awas, hati-hati dengan si hidung belang.
-  Lihat, sang suara sedang beraksi di atas panggung.
d.   Banyak tak tentu:
-  Sumbangan itu akan diberikan kepada para korban bencana alam.
-  Ketekunan dan kedisiplinan sangat diperlukan bagi para pelajar.
-  Para ilmuwan diharap lebih menekuni dan mendalami bidangnya.
Menilik arti yang dimilikinya, maka kata sandang “para’ tidak boleh dipakai di depan kata ulang yang menyatakan arti intensitas kuantitatif, seperti pelajar-pelajar, anak-anak, guru-guru, pedagang-pedagang, dan sebagainya.
Selanjutnya, berdasarkan arti dan uraian di atas , jelaslah bahwa selain kata sandang merupakan bentuk terikat – karena tidak mempunyai arti yang pasti lepas dari hubungannya dengan bentuk yang lain – juga tidak dapat bendiri sendiri. Bersama-sama kata lain, kata sandang akan menduduki jabatan tertentu di dalam kalimat yang umumnya subjek atau objek.
2.6.10    Kata Seru (Interjectio)
Kata seru atau interjectio adalah kata yang dipakai untuk menyatakan luapan emosi atau perasaan. Ada beberapa ciri penting yang dimiliki oleh kata seru. Pertama, kata seru dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tak lengkap. Atas dasar inilah maka banyak ahli bahasa yang menyatakan bahwa kata seru sebetulnya bukan lah suatu kata, melainkan kalimat. Kedua, kata seru tidak menduduki jabatan tertentu di dalam kalimat, dan terpisah dari bangun kalimat yang ditempatinya. Ketiga, kata seru dapat menyatakan luapan emosi tau perasaan yang berbeda-beda, sesuai dengan hubungannya dalam kalimat. Keempat, kata seru merupakan kata yang paling tua dan bersifat umum. Artinya kata seru adalah kata yang paling dulu digunakan oleh manusia dalam proses kebahasaannya, dan hampir semua bahasa mempunyai kata seru yang sama, misalnya : oh, ah , hai, he.
Berikut ini adalah beberapa contoh pemakaian kata seru sebagai kalimat dan didalam kalimat, serta fungsi dan arti yang dinyatakannya.
a.    Aduh!
b.    Aduh, dia lagi yang muncul.
c.    Aduh, tingginya bangunan itu.
d.   Aduh, bagaimana ini?
e.    Aduh, ini anak!
Semua contoh di atas menunjukkkan bahwa sebagai kata seru, “aduh” dapat mendukung makna yang berbeda-beda, seperti halnya kata seru yang lain. Di samping itu, apabila kita menganalisa kata seru dalam kelima kalimat di atas berdasarkan fungsi yang dimilikinya, kita segera mengetahui bahwa kata seru tersebut tidak menduduki jabatan tertentu. Sedangkan kalimat a, yang hanya terdiri dari kata seru itu saja, dengan kalimat lain atu suasana tertentu yang melatari pengucapan kalimat tersebut, dapat menimbulkan makna yang lebih luas atau lebih sempurna dari bentuknya ( Aduh!). itulah sebabnya, maka kalimat a di atas, selain dapat disebut kalimat elips( tak sempurna), dapat juga disebut kalimat seru, kalimat terikat, dan kalimat minim.
Selanjutnya, dalam bahasa indonesia kita mengenal tiga macam kata seru, yaitu:
a.       Kata seru asli: ah, oh, ha, hai, bah, cih, cis, wah, dan sebagainya.
b.      Kata seru yang berasal dari jenis kata lain dan mempunyai makna leksikal: astaga, ampun, syukur, gila, keparat, kasihan, awas, dan sebagainya.
c.       Kata seru yang berupa ungkapan: celaka dua belas, alhamdulillah, inalillahi, astagfirullah, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar