*Redupnya
Cinta Lara*
“ Restu Ibu Adalah Kekuatan Bagi
Setiap langkahku”.
|
S
|
usu kota buntu
di pinggiran Sumatra Utara seperti membisu menghantar kepergian Lara ke kota
seberang Langsa. Dedaunan seperti tak bergerak langit seakan hujan tak tahan
Lara memandangi wajah teduh penuh kehangatan. . .Ibu. . .Ibunda. Wanita yang paling di sayangi Lara.
Lara
dari kecil tinggal bersama Ibu , Ayah dan kakaknya Rifa. Mereka empat
bersaudara hanya saja abangnya , Hamid sejak Lara duduk dibangku SLTP sudah
merantau ke pulau timur Sumatra Utara , Batam. Sedangkan kakaknya Sari sejak
Lara bersekolah di SD sudah tinggal bersama saudara Ibu di kota Langsa.
Keluarga ini jarang berkumpul hanya pada saat acara besar saja.
Lara
sangat dikenal oleh teman-temannya sebagai anak yang pintar dan pendiam. Di
dalam keluarganya juga agak sedikit tertutup. Lara sangat bahagia saat
pengumuman kelulusan SMA tiba , dia lulus. Lara sangat ingin melanjutkan
sekolah sampai perguruan tinggi , namun apa daya Lara hidup dengan keluarga
yang kurang mampu , namun dia tetap bersabar.
Lara
selalu bisa mengerjakan tugas yang diberikan di sekolah. Namun Lara kerap kali
tak dikenal oleh gurunya. Lara tidak pernah tunjuk tangan ketika Lara
mengetahui jawaban atas pertanyaan gurunya.
Lara hanya menjawab kecil
dibangkunya yang biasa duduk di nomor dua dari depan itu.Temannya lah yang
menyalurkan jawabannya ke guru sehingga temannya lah yang mendapat rangking
dikelas. Bagi Lara sudah mengerti akan pelajaran saja sudah cukup tidak harus
aktif di kelas.
Keadaan
seperti itu terus berlangsung sampai sekarang , bangku perkuliahan. Sampai
suatu ketika Ibu mengetahuinya dan melarang Lara untuk memberikan jawaban
kepada temannya itu. Lara hanya berkata “ Iya Bu”. Tapi keadaan itu terus saja
seperti daun yang hijau pasti akan selalu kering bila di terangi matahari.
***
Sementara
itu di Kota Perlak di daerah timur aceh ada seorang pemuda tampan, bernama
Rian. Rian adalah anak bungsu dari 3 bersaudara itu berperawakan agak preman,
tubuh tegap , kulit sawo matang. Seperti halnya anak seumuran Rian 18 tahun
Rian masih tergolong ugal-ugalan .
Rian
sudah memiliki pacar , hanya saja pacarnya itu mencintai orang lain padahal
mereka telah menjalin hubungan selama satu tahun. Tapi Rian tidak memaksakan
Rani pacarnya itu untuk terus bersamanya. Dan itu artinya sekarang Rian
sendiri.
Beberapa
waktu kemudian Rian lulus SMA dan pergi kuliah di Kota Langsa. Rian mendaftar
di kampus yang sama dengan Lara di Fakultas Ekonomi. Arman dan Doni yang
temannya Lara itu adalah temannya Rian juga di kampung. Hanya saja Lara tidak
mengetahuinya dengan jelas.
***
Saat
pergi ke Kota Langsa , tempat Lara pertama kali jauh dari Ibu. Lara tampak
murung dan bersedih hati. Lalu Ibu
berpesan “ Lara harus kuat nak , jangan berikan jawaban lagi kepada teman-teman
jika nanti masuk kuliah”.
Kendaraan
mini yang dikenal L300 itu hilir mudik namun tak jua berhenti , sudah penuh
berdesakan. Saat itu adalah akhir liburan panjang puasa dan Hari Raya Idul Fitri.
Tak lama kemudian berhenti sebuah mobil berwarna abu-abu dengan gambar wanita
cantik dibelakangnya berhenti. Lara dan Sari naik namun Lara diam saja. Lara
masih menghapus linangan air mata yang tumpah karena meninggalkan Ibu di
kampung.
Lara
berat meninggalkan Ibu , kakaknya Rifa belum bisa di percayainya untuk menjaga
Ibu. Namun saat itu Lara harus pergi, tekatnya sudah bulat untuk merubah nasib
di kota lain. Pernah suatu ketika Ibu jatuh , pergelangan tumit Ibu tergeser
karena jalanan menuju kepersawahan yang tepat di belakang rumah Lara itu licin
karena musim hujan. Lara kala itu melanjutkan pekerjaan Ibu menanam padi namun
kakaknya tidak mau membantu alasannya tidak bisa kerja berat nanti sakit.
Hampir dua minggu lamanya sawah berukuran 20 x 400 m2 itu siap
diwarnai Lara dengan hijaunya bibit padi secepat kilat.
Lara
yang berparas manis dengan tahi lalat di dengan hidung atas sebelah kanan bak
gadis india itu , di kenal oleh warga kampung sebagai tulang punggung keluarga
ada juga yang mengatakan Lara adalah anak laki-laki dalam keluarga
itu.Bagaimana tidak Lara sanggup mengangkat padi seberat 50 Kg dengan sorongan.
Mampu mengangkat padi 20 Kg dengan di pikul. Sungguh wanita perkasa.
Beberapa
waktu kemudian setelah panen tiba sawit tersusun bagai catur di persawahan.
Ayah menanamnya. Ibu sangat marah.“ Jika sawah telah di tanami sawit maka sawah
akan kering dan padi pun tak kan berhasil jadi keluarga harus makan dari mana,
jelas Ibu kepada Ayah”. Pertengkaran ini
terus saja berlanjut Ibu tidak bisa mengerti kenapa Ayah begitu. Karena salah
satu alasan itu juga Lara bersikeras untuk merantau.
***
>>>Cinta
Pertama Lara<<<
Rumah
Lara dikelilingi oleh pemohonan rimbun dengan lebar yang cukup luas sehingga
para petani dari jauh yang bersawah di sekitar rumah Lara itu menitipkan
kendaraannya di rumah Lara.
Saat
itu ada seorang pemuda yang menitipkan kendaraannya di rumah Lara. Pemuda itu
terus memandangi Lara penuh maksud sepertinya mempunyai rasa yang khusus.
Pemuda itu bernama Fajar. Ibu mengetahui hal itu dan melarang Lara dekat
dengannya. Karena keluarga Fajar tidak menyukai keluarga Lara. Suatu saat Fajar
mengajak kencan Lara ke kota Berandan namun Lara menolaknya. Lara memang
dilarang keluar dengan laki-laki oleh Ibunya terkecuali pergi dengan teman sekolahnya.
Namun saat itu Lara baru saja tamat SMK di kota Susu.
Fajar
pun pantang menyerah dan semakin rajin pergi ke sawah Ayahnya yang bersebelahan
dengan sawah Ayah Lara. Padahal dahulu tidak pernah Fajar membantu Ayahnya yang
sudah tua itu. Tapi karena ada kembang sawah yang manis” Lara”, Fajar rela
berpanasan dan berpeluh di sawah saat itu.
Bagi
Lara perjuangan Fajar untuk mengambil hatinya itu kurang gigih. Lara sempat ada
perasaan pada Fajar namun Ibu tak menyetujui jadi Lara mundur teratur. Ditambah
lagi Lara melihat Fajar adalah sesosok laki-laki yang terlalu pamer dan
membangga-banggakan harta orang tua nya serta tidak menghormati Ibu Lara yang
saat Ibu Lara dalam keadaan pendengaran yang kurang nomal. Fajar seakan
mengacuhkan Ibu yang kala itu ada dalam pembicaraan mereka.
Saat
itulah cinta Lara seakan redup untuk sang Fajar. Lara selalu memendam
perasaannya sampai Lara benar-benar menemukan cinta sejatinya. Lara lebih
memilih Ibu dari pada hanya sekedar sesosok pemuda yang belum tentu tulus mencintainya
itu. Setiap kali Fajar datang kerumah untuk menitipkan kendaraannya Lara
langsung masuk kedalam rumah dan tak keluar sampai Fajar pulang dari sawah.
***
Langit
begitu putih , awan menari-nari sembari menghiasi pepohonan. Lara dan Ibu duduk
diatas pondok dibelakang rumah Lara sambil memandangi sawah yang sedang
dibajak. Tak lama kemudian brem—brem terdengar suara kendaraan dari atas bukit
Muri, Abang Fajar datang untuk melihat
sawahnya. Dia mampir dan duduk di pondok bersama dengan Lara.
“
Sudah tamat SMK gak kuliah ra?”. Anak saya sudah dapat undangan mendaftar di
UNIMED Medan.
Ibu
hanya menjawab ya nanti , Lara pun tidak banyak berkata. Lirih dalam hati Lara
sangat ingin berkuliah juga seperti anaknya itu. Sudah hampir setahun Lara
menganggur di rumah. Padahal cita-cita Lara setelah tamat SMK langsung kuliah
sambil kerja.
***
Waktu
terus berlalu bagai membalikkan telapak tangan tapi tidak bagi Lara. Teman
–teman terus bertanya , “ gak kuliah ra, udah nikah ? atau udah kerja dimana,
dengan wajah sedikit gembira menutupi kesedihan
, senyum selebar setengah cm mencoba menjawab dengan lapang dada ,
“belum, masih dirumah aja”.
Setahun
kemudian Hamid menikah dengan teman kerjanya di Batam. Ibu terkejut karena
Hamid terkesan pendiam dan jarang bergaul dengan perempuan katanya malu. Ibu
juga tak pernah mendengar kalau-kalau anaknya itu pernah punya pacar. Sebelum itu Ibu menerima sepucuk surat dan
dua lembar foto Hamid dan Yuna calon istri Hamid.
Assalammualaikum ,w.r, w.b.
Ibu , kabar Abang di batam baik-baik saja ,
bagaimana dengan Ibu, adik –adik dan ayah di kampung?.
Bu , Abang di sini sudah punya pacar ,
sebagaimana foto yang Abang kirimkan juga , dia anak medan yang juga bekerja di
Batam sebagai kasir ditempat kerjaan Abang , rencananya bulan depan kami mau
menikah. Bagaimana menurut Ibu, apa Ibu menyetujuinya ?
Pertengahan bulan depan Abang akan pulang
membawa calon istri Abang itu untuk di kenalkan kepada keluarga kita.
Salam kangen
Buat ibunda
Keluarga
Lara mulai bermufakat , menceritakan perihal surat yang baru saja datang
kepangkuan Ibu itu. Namun Ayah hanya
mengatakan “oh ya sudah”. Ibu sangat
terpukul karena Ayah Lara memang tidak ada tanggung jawab dan kepedulian sedikitpun kepada anaknya yang sudah
membiayai dan membantu keluarga , Ibu seakan single parent saja.
Semua keluarga diundang. Hampir sebulan Ibu
sibuk menyiapkan acara pernikahan Hamid tersebut. Saat itu Sari kakak Lara yang
satunya lagi sedang menyelesaikan D3 Manajemen Informatikanya di Palembang. Ibu
mengabarkan berita bahagia ini kepada Sari , Sari begitu terkejut .
“Kak
sedang apa, nih minggu depan nanti Abang
mau nikah , kakak bisa pulang , tanya Lara lewat telepon seluler”.Ya ra , owh dengan orang mana , kok tiba tiba “kata
Sari.
Yah
Sari bisa pulang kan , biar kita kumpul lah disini , sama orang Medan tapi dia kerja ditempat abang juga di Batam ,
tambah Hamid setelah diberikan telepon genggam oleh Lara. Waduh , sepertinya
tidak bisa nih bang, Sari lagi sibuk mau
ujian sidang minggu ini di kampus.
Ini Sari lagi pening belajar biar bisa
jawab nanti.“Ow gitu yah, ya sudah tidak apa-apa , abang mohon do’a restumu
saja. Semoga Sari bisa lulus di sidang nanti”.
Satu
minggu kemudian Hamid dan istrinya kembali ke Batam. Mereka tinggal di
kos-kosan menyewa sebuah kamar. Maklum biaya sewa rumah sangat mahal di Batam.
Keluarga istri Hamid bersikukuh ingin mereka tinggal di Medan. Sementara Hamid
tidak mau , karena memang tidak ada pekerjaan disana. Belum lagi keluarga
istrinya itu melimpahkan nafkah kepada Hamid yang gajinya tidak terlalu besar.
Hamid merasa tidak kerasan tinggal
disana.
***
Hari
pertama Lara ke Langsa disambut dengan penuh gembira. Lara selalu diberi
kebahagiaan diawal, sering di ajak jalan-jalan , namun itu tidak berjalan lama.
Lara tidak pernah meminta sesuatu apapun , namun saudara Lara Bunda Mina selalu
memberikan uang saku dan langsung naik jabatan menjadi kepala sekolah ditempat
iya bekerja. Sekolah itu adalah milik
Bunda Mina. Lara awalnya adalah guru setelah 2 tahun lara diangkat menjadi
kepala sekolah disana.
Hal
tersebut di atas ternyata membuat Sari yang juga tinggal di Langsa bersama Lara
itu merasa iri hati. Sari sering memarahi Lara tanpa alasan yang jelas. Sari
selalu menyuruh-nyuruh Lara dengan nada membentak. Lara sangat bersedih hati ,
Lara selalu mengingat ibu di kampung. Namun Lara cepat saja menghapus air
matanya dalam hatinya ini adalah pilihan Lara dulu pergi meninggalkan Ibu untuk
merubah hidup menjadi lebih baik lagi.
Udara
sejuk terasa panas bagi Lara. Setelah setahun di Langsa dengan perlakuan
kakaknya yang seperti itu Lara semakin menutup diri. Tiba –tiba Bunda Mina
menyuruh Lara untuk berkuliah. Lara disuruh mendaftarkan kuliah sesuai dengan
yang iya sukai. Lara langsung mengatakan ingin masuk di Fakultas Ekonomi di
Langsa, Bunda Mina menyetujuinya. Namun Bunda Mina juga berkata lebih baik
masuk Fakultas Keguruan saja, peluang PNS nanti guru itu lebih banyak
penempatannya dan terus berkembang ketimbang
Fakultas Ekonomi itu sangat
sulit.
Lara
hanya mengiyakannya. Lara mau masuk Fakultas Keguruan saat itu asalkan kuliah
di Fakultas Ekonomi tidak keluar.” lirih Lara dalam hati”.
Tak
lama Lara masuk Fakultas Ekonomi di Langsa , Sari juga masuk di Fakultas yang
sama. Sari waktu itu sudah tamat D3 di Palembang, Sari juga di suruh Bunda Mina
untuk melanjutkn S1 di Fakultas Ekonomi.
Lara
dan Sari pergi kuliah bersama, setiap pulang kuliah Lara selalu dimarahin. Tahu
saja pasti ada sesuatu yang di berikan oleh Bunda Mina. Padahal Bunda Mina tak
pernah membedakan mereka berdua.
Badan
penuh peluh , Lara berganti pakaian dan makan di meja makan sambil menonton
televisi bersama Bunda Mina dan Sari. Tiba-tiba Bunda Mina menanyakan lagi
kepada Lara “ kapan Lara mendaftar di Fakultas Keguruan?”, bukannya sudah tutup
pendaftaran Bunda, ya coba dilihat dulu , ya tapi kan Lara sudah kuliah di
Fakultas Ekonomi. Lara gak mau keluar dari Fakultas Ekonomi itu Lara mau masuk
di Fakultas Keguruan asalkan kuliah Lara di Fakultas Ekonomi tetap jalan,
baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu dan kalau memang kamu
sanggup Bunda izinkan dan akan membiayainya.
Lara
terhanyut dalam pembicaraan kala itu. Ada perasaan senang sekaligus gundah
dalam batinnya “ apa aku bisa”. Lara mengambil keputusan itu tidak lain adalah
untuk menghindari hujan repetan kakaknya yang selalu iri kepada Lara. Lara
berfikir dengan hal ini akan mengecilkan peluang bagi kakaknya itu untuk
memarahinya.
Hal
tersebut di atas berhasil , intensitas pertemuan antara Lara dan Sari membuat
sari tak pernah memarahi Lara lagi , bagaimana tidak Lara dan Sari hanya
bertemu di malam hari.
***
Minggu
itu lara tidak berkuliah... .“ Jika ada yang bilang ku tak baik jangan kau
dengar...jika ada yang bilang ku berubah jangan kau dengar... lagu nada
panggilan sari terus berdering nomor tak di kenal memanggil, Lara memanggil
Sari lalu Sari mengangkat telpon tersebut.
“Halloo
, assalammualaikum , kak . . ., ini Rifa , rumah kita terbakar tadi pukul 10.00
wib , kami semua baik-baik saja hanya saja rumah dan isinya tak bisa kami
selamatkan. Sari menangis.
Lara
bingung , apa sebenarnya yang terjadi , karena Lara hanya mendengar samar-samar
percakapan antara Sari dan Rifa di telepon, Lara khawatir terjadi apa-apa
kepada Ibunda di kampung.
Bunda
Mina menelepon semua keluarga yang bisa pergi membantu saat itu, Sari masih
bisa membawa pakaian dan sesuatu lain yang diperlukan sementara Lara hanya
melamun. Selama 2 jam perjalanan menuju kampung Lara hanya diam saja
Sampainya
di kampung , Lara membuka mobil tak ada satu barang pun yang di bawanya
termasuk handphone. Yang ada dalam benak Lara hanya Ibu , Ibu dan Ibu.
Rumah
Lara penuh dengan kerumunan warga kampung. Lara
bingung Ibu ada dimana, lalu Lara melihat Rifa dan menanyakan kepadanya
dimana Ibu. Teryata Ibu duduk menangis di pondok yang biasa mereka berkumpul di
sana dulu. Lara sontak langsung memeluk Ibu , Ibu terkejut dan kembali
menangis. Tak lama Lara langsung melihat rumah dengan warna hitam pekat itu
namun dihati nya rumahnya tetap sama seperti yang dulu , rumah dimana mereka
selalu bergembira , berkumpul bersama-sama.
Belum
sempat masuk kedalam rumah Lara mendapati ayah di pintu masuk langsung memeluk
ayah dengan penuh haru. Selangkah demi selangkah Lara melihat dinding yang
penuh hitam. Sampailah Lara dikamarnya , ada Abang rupanya disana Hamid baru saja
pulang karena bertengkar dengan istrinya, Lara lalu memeluk Hamid juga dan
menangis.
Setelah
puas melihat rumah bahagianya itu Lara kembali menemani Ibu. Ibu menceritakan
perihal kejadian kebakaran itu. Semua warga kampung melihat dan
memperhatikannya.
Semua
warga tampak membantu. Lara melihat mencari-cari Fajar , pemuda yang
mencintainya dulu sebelum iya berangkat ke Langsa , namun dia tidak ada. Lara
semakin tak menyesal menolaknya waktu itu.
Lara
, Sari, Rifa dan Hamid sibuk membersihkan hitam di rumah. Ibu hanya termenung.
Lara saat itu menge-cat rumah mengangkat barang-barng lalu ke pasar dengan Ibu.
Setibanya di pasar lara merasakan tubuhnya sangat kecapeaan lalu pingsan di
tengah keramaian. Ibu terus saja menangis kalau-kalu terjadi apa-apa dengan
Lara. Lara juga tak mengerti kenapa dia seperti itu karena dulu dia adalah
wanita yang kuat tetapi setelah 1 tahun di langsa dia menjadi lemah. Hal itu
mungkin disebabkan Lara tidak pernah kerja berat lagi.
***
Tak
lama kejadian itu istri Hamid malah membuat masalah yang tidak di sukai oleh
Ibu , tak lalu mereka bercerai , ini semakin membuat Ibu terpukul dan Hamid
kembali ke batam setelah dibujuk oleh ibu.
***
Lara
kuliah seperti biasanya. Lara pergi kuliah dengan becak. Bukan tidak ada
kendaraan tetapi saat itu Lara belum bisa mengendarainya. Ada rasa cemburu di
dalam batin menggelayut kapan bisa seperti mereka pergi kuliah dengan naik
sepeda motor atau di jeput pacarnya. Belum lagi kejadian kebakaran yang menimpa
rumahnya itu lara seaakan tidak bersemangat.
Lara
ingin mempunyai pacar. Suatu ketika Lara di comblangin oleh teman satu
kampusnya di fakultas Keguruan. Pria yang sering di panggil Maman itu adalah temannya
Sarah di Kota Lintang Kuala Simpang.
Maman
bertubuh tegap, putih dan ganteng. Maman sangatlah penyabar , sungguh seseorang
yang sangat di kagumi oleh Lara. Lara sangat berbahagia dengannya. Mereka
bercengkrama. Maman mendengarkan tentang karir dan pendidikan Lara. Sungguh ada
rasa malu dalam hati Maman di tidak ada apa-apanya dibanding Lara.
Lara
dan Maman selalu berjumpa saat lara memintanya. Lara sangat ingin di manja oleh
Maman. Mereka pergi ke Kuala Langsa , saat itu mereka saling berjanji tak kan
menyakiti satu sama lain , tidak akan menyatakan kata perpisahan. Jika ingin
putus maka sama-sama akan menyebutkannya.
Namun
ditengah kebahagiaan Lara dengan Maman , tiba tiba maman menghilang. Lara
sangat bersedih. Semangat Lara runtuh untuk seketika yang membuat keadaan fisik
Lara menjadi lemah itu di tandai dengan turunnya berat badan Lara. Lara semakin
kurus saja.
>>>Empat
bulan kemudian<<<
Lara
terus bersemangat menjalani hari-hari pagi bekerja dan sorenya kuliah, walau
pun dalam hatinya hancur. Suatu ketika Lara melihat sesosok pemuda tampan ,
manis tinggi, inilah tipe pria yang di sukai Lara , dia mengingatkan Lara
dengan Maman kekasihnya yang dulu menghilang. Dalam hati Lara ingin lebih dekat
dengannya , tapi bagaimana caranya. Lara bingung.
Waktu
itu Lara sudah semester 7 sementara pemuda tadi baru saja masuk semester 1.
Lara saat itu memang ingin mengulang 2 mata kuliah di semester satu. Dari awal Lara sudah mencoba menanyakan kepada
Arman teman satu semesterannya. Apakah ada temannya di semester 1 yang bisa
ditanyai untuk informasi kapan –kapan saja jadwal mata kuliah yang akan di
perbaiki oleh lara. Hal itu di lakukan Lara untuk jaga-jaga siapa tahu jadwal
nya sering berubah. Namun Arman tak memberikan nomor telepon temannya itu yang
ternyata bernama Rian dia adalah orang yang selama ini Lara inginkan. Tapi lara
mencoba sabar kalau memang jodoh tak kan lari gunung dikejar.
Lara
dan Rian sering bertemu dan berjumpa pandangan mata ada sesuatu tersembunyi di
dalam hati mereka berdua.
Suatu
ketika Lara menanyakan kepada Dian temannya itu apakah ada temannya di semester
1 yang wanita untuk ditanyai jadwal mata kuliah. Tapi saat Lara meminta nomor
telepon tersebut Rian ada di situ yang langsung menyahut nomor saya saja kak.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Memang
dari dahulu itu yang Lara mau.
Sejak
saat itu mereka berdua sering sms_an. Tak lama kemudian Rian menembak Lara ,
ternyata Rian juga menyukai Lara. Lara meminta waktu 2 hari untuk menjawabnya. Dalam hati Lara masih
ingin akan kehadiran Maman. Tapi Lara menyerah karena nomor telepon maman sudah
tidak aktif lagi. Suci teman maman yang mencomblangi mereka pun tidak
mengetahui di mana keberadaan Maman.
***
Hari
ini memang sangat membingungkan bagi Lara. Beberapa waktu yang lalu Lara di
taksir oleh seorang pria yang cukup tampan. Mereka terpaut umur 8 tahun . Perbedaan umur yang cukup jauh itu membuat
Lara semakin bingung.
Lara
semakin bingung lagi karena sebelumnya ada dua pria yang mencoba mendekati
lara. Lara memang banyak di sukai oleh para pria yang dekat dengan nya. Karena
Lara sangat ceria dan suka bercanda serta pintar pula. Namun dalam hati yang
paling dalam Lara lebih menyukai pria yang masih berondong itu.
Rian
selalu memberikan perhatiannya kepada Lara sedangkan dua pria lagi Budi dan mas
Landi sepertinya sangat sibuk sehingga hanya sesekali saja memperhatikan Lara
tidak hal nya dengan pesan atau telepon.
Beberapa
hari ini Lara terus menilai dan meneaalah mereka bertiga. Melihat baik buruknya
mereka , namun Lara belum mendapatkan jawabannya. Lara mencoba bertukar pikiran
dengan teman dekatnya, Lara terus membandingkannya dengan kenyataan yang ada.
Tetapi hal tersebut belum cukup.
Lara
menginginkan seseorang yang bisa memahami , mengerti dan perhatian kepada lara.
Rian yang tergolong masih adik lara itu sungguhlah membuat hati Lara bahagia.
Budi dan Mas Landi pemuda yang sudah cukup
mapan namun tidak mengena di hati Lara , inilah cinta tak dapat dipaksakan.
Lara juga harus berpikir rasional. Keputusan yang Lara ambil malam ini sangat
menentukan hari-hari Lara selanjutnya.
Awalnya
Lara hampir membuka hatinya untuk Budi tetapi entah mengapa beberapa waktu yang
lalu Lara mendengar kabar kalau Budi adalah seorang duren alias duda keren. Hal
itu sebenarnya tak menyurutkan hati lara namun Lara perlahan mundur karena Budi
tidak memberikan perhatian lagi pada Lara. Sementara itu Mas Landi orangnya
agak sedikit pulgar atau “ gatal “ jadi lara harus berpikir seribu kali lipat
lagi untuk memilihnya.
Setelah
melakukan sholat dan berdoa lara memutuskan pilihannya. Ditambah lagi waktu yang di berikan Rian sudah habis
dan Rian terus saja menanyakan apa jawaban dari Lara atas permintaaannya itu.
Lara
menjawab iya.
>>>
Harapan ini cinta terakhir <<<
Iya
Lara mau menjadi kekasihmu , tapi Lara ingatkan Lara orangnya sibuk , Lara
hampir tidak ada waktu untuk pacaran selain itu lara orangnya cerewet apakah
rian bisa tahan. Rian menjawab iya apapun atas kekasih kita harus bisa
dipertahankan. Lara memegang teguh jawaban Rian itu.
Hari-hari
baru di jalani oleh kedua insan ini. Pasangan yang baru saja di mabuk asmara.
Tapi mereka belum pernah ketemu semenjak baru jadian. Karena pada saat itu
sedang hari libur tahun baru islam.
Dua
hari kemudian mereka baru berjumpa dan ketemu di sebuah Restoran terkenal di kota Langsa Ayam Penyet Pak Ulis
, lalu mereka makan bersama, bercanda tawa riang berdua.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 wib Lara
mengajak Rian yang di sebutnya ayank itu untuk pulang karena memang sudah mau
maghrib. Rian mengiyakan , tetapi katanya ke kosan dia dulu , kebetulan memang
Rian di Langsa ngekos. Karena orang tuanya tinggal di Perlak.
Sesampainya
di rumah kosnya , sebenarnya Lara tidak ingin masuk , di belum mempercayai Rian
sepenuhnya , dia tidak mungkin masuk apalagi Rian bilang tadi di rumah tidak
ada orang lain dia sengaja mampir ke rumahnya dulu untuk menghidupkan lampu
karena nanti mau pergi lagi ke tempat lain setelah mengantar Lara pulang.
Tetapi Lara yang saat itu sedang memakai jilbab merasa jilbab nya sudah agak
berantakan dan menanyakan kaca kepada Rian , Rian mengajaknya masuk. Entah
memang ada setannya tak tau juga setelah Lara membenarkan letak jilbabnya
setelah selesai tiba-tiba Rian minta ingin
menciumnya tetapi Lara menolaknya. Rian terus membujuk Lara , lalu Lara
bilang boleh tapi di pipi saja lalu Rian mengiyakan.setelah mencium pipi Lara
tiba-tiba Rian... mencium tepat di bibir manisnya itu. Langsung Lara menyingkir
dan marah . Rian minta maaf dan memeluk Lara.
Lara
memaafkannya. Lara merasa tidak ada tenaga lagi saat itu. Kepalanya terasa
sedikit pusing. Maghnya juga tiba-tiba kambuh. Dunia terasa gelap.
Lara
pingsan tiba –tiba. Rian panik dan terus saja menepuk-nepuk pipi Lara supaya
dia sadarkan diri, tetapi Lara tak juga bangun. Rian mencoba mencari minyak
angin tetapi tidak ada. Lalu Rian keluar mencoba mencari pertolongan tetapi
tidak ada semua sunyi sedang menjalankan ibadah sholat maghrib karena pada saat
itu memang sudah saatnya sholat maghrib.
Rian
kehabisan akal. Rian terus saja menepuk-nepuk pipi Lara dan akhirnya Lara
bangun juga. “Cayang kenapa, apa sayang terkejut karena telah ayang cium tadi.
Apa cayang marah” tanya Rian khawatir.
Tidak jawab lara serak. Sakit kata Lara. Saat itu Lara memang sangat tidak
menjaga pola makannya. Sehingga Lara kambuh lagi.
Setelah Lara sadar , Lara menjajak Rian untuk
mengantarnya pulang Lara takut dimarah oleh keluarganya karena pulang telat.
Rian mengiyakan lalu mengantarnya pulang dengan keadaan yang sempoyongan itu.
Dalam hati Lara tak menyesal iya menerima cintanya.
Lara
lalu tidur , karena memang kelelahan. Rian terus saja memberikan perhatiannnya
kepada Lara lewat pesan singkat. Sampai suatu ketika Rian harus pulang kampung
dan tidak memberitahukannya kepada Lara. Lara sangat bersedih hati karenanya.
Ditambah lagi Rian selalu saja pulang di saat Lara punya waktu untuk berjumpa
dengannya maklum saja Lara sangat sibuk pagi kerja dan sore harus kuliah di dua
Universitas. Hanya sabtu dan minggu sore saja mereka dapat berjumpa. Namun itu
pun tak dapat di berikan oleh Rian.
Rian
selalu meminta sesuatu yang tak dapat di berikan oleh Lara. Rian minta untuk
pergi malam minggu dengan Lara. Datang kerumah Lara. Ingin mencium Lara lagi.
Semua itu sungguh tak mungkin di berikan lara kepada Rian. Keadaan ini sungguh
membuat lara tertekan.
Besoknya
Lara di jemput lagi oleh Rian mereka jalan-jalan lagi. Kali ini mereka jalan
–jalan ke arah PTPN 1 langsa. Lara yang saat itu memang sudah lelah sebenarnya
mengajak Rian duduk-duduk saja tetapi Rian bersikeras untuk jalan-jalan sambil
bercanda. Lara berjaga-jaga dengan memegang atau memeluk Rian di kendaraan.
Lara bilang ke Rian yank pening cyank kenapa pening , Rian memegang erat tangan
Lara takut kalau-kalau Lara jatuh sangat bahaya karena saat itu mereka berdua
sedang dalam perjalanan berkendara. Namun tak berdaya lagi tiba-tiba Lara
pingsan Rian mengurangi kecepatan dalam mengedarai lalu berhenti perlahan. Lara
pun jatuh terkulai di tanah.
Rian
panik sementara orang –orang yang ada di jalanan yang lewat itu terus heran
tapi tak ada yang menolong sampai ada yang lewat ternyata di adalah pemilik
toko di dekat kampus mereka berdua lalu
Lara di bawa ke RS cut mutia sementara Rian mengikuti dari belakang.
Sampainya
di RS Rian menggendong Lara layaknya istrinya langsung ke ruangan UGD Lara
ditangani oleh dokter. Tak lama kemudian Lara sadar dan di suruh di opname
tetapi Lara tidak mau Lara ingin pulang saja. Rian marah kepada Lara boleh pulang asalkan sudah kuat
berdiri. Lara dan Rian pun pulang sesampainya dirumah Lara dengan wajah pucat
tak di perdulikan oleh keluarganya Larapun diam saja tak memberitahukan padahal
Lara tadi telah masuk RS.
Lara
meminum resep dokter yang di beli oleh
Rian. Lara juga sudah lama tidak menghubungi
Ibu dan Abang di kampung memang sedang sibuk-sibuknya apalagi sedang
sakit. Dalam hati Lara sangat merindukan Ibu.
Hari
terus berganti , jadwal kegiatan Lara semakin padat , tugas kuliah Lara juga
semakin bertumpuk sementara waktu untuk penyelesaian semakin sedikit karena
Lara harus sudah datang setiap pukul 14.00 wib setiap harinya untuk latihan
tari ranuup lampuan untuk acara wisuda di kampusnya yang jurusan ekonomi.
Musik
ranuup terus mengalun Lara pun menari dengan indahnya. Saat itu Lara sebagai
putri di tarian itu. Sontak dalam keindahan gerak tarian Lara, Lara jatuh
pingsan. Rian yang juga sedang ada di aula tempat Lara latihan itu langsung
mematikan musik dan mendatangi Lara. Teman- teman Lara panik.
Selama
satu minggu Lara terus saja pingsan. Lara tak memberitahukan perihal sakitnya
kepada ibu dan ayah di kampung. Sari kakaknya terus saja marah “ sibuk nari aja
, gak usah makan –makan lagi bikin malu saja asik pingsan-pingsan aja di kira
orang tidak di kasi makan, dan tidak di
perhatikan “.
Lara
yang sedang sakit cuma bisa menangis di dalam hati. Suatu hari Lara tetap pergi
kerja namun saat hendak masuk ke kelas lara pingsan lagi lantas teman kerjanya
langsung memarahi Sari untuk segera membawa lara ke rumah sakit. Sesampainya di
rumah sakit Lara di vonis hampir mengindap sakit jantung akibat sakit maghnya
yang sudah lumayan parah. Lalu datang seorang psikolog di rumah sakit itu
menanyakan kepada lara apa Lara mempunyai masalah, apa keluarga Lara tidak
perduli kepada Lara. Lara harus kuat lara harus semangat.
Lara
menceritakan perihal Lara berkuliah di
dua universitas itu. Psikolog itu memahami apa masalah Lara sebenarnya.
Mendengar hal tersebut Bunda Mina langsung pulang dari Medan esokkan harinya
Lara di bawa kerumah sakit Cut nyak Dhien disana Lara diberi suntikan
neurobion. Di RS cut Nyak Dhien lara di vonis kelelahan saja dan perlu
istirahat total selama satu minggu akibat dari pola makan lara yang berantakan
, susah tidur dan sering nyeri di bagian kepala.
Kali
ini Lara terbaring di rumah. Lara tidak ke kampus. Rian menyuruhnya untuk
istirahat kalau sudah pulih dan benar-benar sembuh sayang baru boleh pergi
kuliah.
Rian
mengingatkan , menanyakan keadaan Lara dan selalu setia kepada Lara. Sampai
suatu ketika saat keadaan Lara agak sedikit pulih Rian harus pulang kampung
namun rian pulang di saat hari pertemuan mereka Lara sangat kecewa dan marah
kepada Rian. Padahal Lara sudah hampir pulih sedikit saja kecewa Lara seperti
lemas dan kekurangan darah , Lara juga bingung sebenarnya punya penyakit apa
karena semua vonis dokter belum ada bukti pastinya.
Suatu
hari setelah pertengkaran hebat Lara dan Rian tetapi mereka kembali baikan.
Mereka pergi ke Laboratorium Azizi. Disana fasilitasnya lengkap dan dokternya
selalu ada.
Lara
memeriksakan keadaannya ternyata Lara sakit magh. Sebab mengapa Lara sering
pingsan adalah karena peredaran darah Lara yang kurang stabil agak melemah dan
Lara sering kekurangan oksigen. Lara memberitahukannya kepada Rian. Rian
mengingatkan agak jangan terlalu lelah dan banyaklah mengkonsumsi air putih.
Pada
minggu sore saat Rian hendak kembali ke Kota Langsa. Rian berbohong kepada Lara
mengapa rian telat sampai. Ternyata Rian menjumpai wanita lain. Sampai suatu
ketika Lara mengetahui hal tersebut Lara marah besar lalu Rian memutuskan
hubungan mereka. Alasan Rian karena Lara marah tanpa alasan dan selalu
mengatur-ngatur Rian. Rian ingin mereka berteman saja.
Sungguh
sangat menyakitkan bagi lara , entah itu alasan Rian saja Lara tidak ingin mau
tahu lagi. Suatu ketika Lara mendengar Rian sakit, Lara menjenguknya dengan
Mutia temannya pergi ke kos nya Rian. Namun sambutan Rian begitu dingin. Saat
itu Lara menyerah untuk mencoba mempertahankan hubungannya dengan Rian.
Inilah keredupan yang sungguh menyakitkan hati Lara . . .
Lembayu
menyeruak larut malam
Cemara
termanggu sayup samar
Lara
pesona merayap cahaya
Sendu
redup sewindu
Nasehat teman. . .
Jangan
jadikan mereka sebagai patokan
Jangan
juga tutup hati untuk orang lain
Jangan
pula langsung menerima cintanya
Seperti
kisah cintaku selama ini’
Tapi
buatlah seaakan semua berjalan apa adanya
Tanpa
beban . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar