Jumat, 02 Oktober 2015



*Redupnya Cinta Lara*

“ Restu Ibu Adalah Kekuatan Bagi Setiap langkahku”.

S
usu kota buntu di pinggiran Sumatra Utara seperti membisu menghantar kepergian Lara ke kota seberang Langsa. Dedaunan seperti tak bergerak langit seakan hujan tak tahan Lara memandangi wajah teduh penuh kehangatan. . .Ibu. . .Ibunda. Wanita  yang paling di sayangi Lara.
Lara dari kecil tinggal bersama Ibu , Ayah dan kakaknya Rifa. Mereka empat bersaudara hanya saja abangnya , Hamid sejak Lara duduk dibangku SLTP sudah merantau ke pulau timur Sumatra Utara , Batam. Sedangkan kakaknya Sari sejak Lara bersekolah di SD sudah tinggal bersama saudara Ibu di kota Langsa. Keluarga ini jarang berkumpul hanya pada saat acara besar saja.
Lara sangat dikenal oleh teman-temannya sebagai anak yang pintar dan pendiam. Di dalam keluarganya juga agak sedikit tertutup. Lara sangat bahagia saat pengumuman kelulusan SMA tiba , dia lulus. Lara sangat ingin melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi , namun apa daya Lara hidup dengan keluarga yang kurang mampu , namun dia tetap bersabar.
Lara selalu bisa mengerjakan tugas yang diberikan di sekolah. Namun Lara kerap kali tak dikenal oleh gurunya. Lara tidak pernah tunjuk tangan ketika Lara mengetahui jawaban atas pertanyaan gurunya.  Lara  hanya menjawab kecil dibangkunya yang biasa duduk di nomor dua dari depan itu.Temannya lah yang menyalurkan jawabannya ke guru sehingga temannya lah yang mendapat rangking dikelas. Bagi Lara sudah mengerti akan pelajaran saja sudah cukup tidak harus aktif di kelas.
Keadaan seperti itu terus berlangsung sampai sekarang , bangku perkuliahan. Sampai suatu ketika Ibu mengetahuinya dan melarang Lara untuk memberikan jawaban kepada temannya itu. Lara hanya berkata “ Iya Bu”. Tapi keadaan itu terus saja seperti daun yang hijau pasti akan selalu kering bila di terangi matahari.
***
Sementara itu di Kota Perlak di daerah timur aceh ada seorang pemuda tampan, bernama Rian. Rian adalah anak bungsu dari 3 bersaudara itu berperawakan agak preman, tubuh tegap , kulit sawo matang. Seperti halnya anak seumuran Rian 18 tahun Rian masih tergolong ugal-ugalan .
Rian sudah memiliki pacar , hanya saja pacarnya itu mencintai orang lain padahal mereka telah menjalin hubungan selama satu tahun. Tapi Rian tidak memaksakan Rani pacarnya itu untuk terus bersamanya. Dan itu artinya sekarang Rian sendiri.
Beberapa waktu kemudian Rian lulus SMA dan pergi kuliah di Kota Langsa. Rian mendaftar di kampus yang sama dengan Lara di Fakultas Ekonomi. Arman dan Doni yang temannya Lara itu adalah temannya Rian juga di kampung. Hanya saja Lara tidak mengetahuinya dengan jelas.
***
Saat pergi ke Kota Langsa , tempat Lara pertama kali jauh dari Ibu. Lara tampak murung dan bersedih hati. Lalu  Ibu berpesan “ Lara harus kuat nak , jangan berikan jawaban lagi kepada teman-teman jika nanti masuk kuliah”.
Kendaraan mini yang dikenal L300 itu hilir mudik namun tak jua berhenti , sudah penuh berdesakan. Saat itu adalah akhir liburan panjang puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Tak lama kemudian berhenti sebuah mobil berwarna abu-abu dengan gambar wanita cantik dibelakangnya berhenti. Lara dan Sari naik namun Lara diam saja. Lara masih menghapus linangan air mata yang tumpah karena meninggalkan Ibu di kampung.
Lara berat meninggalkan Ibu , kakaknya Rifa belum bisa di percayainya untuk menjaga Ibu. Namun saat itu Lara harus pergi, tekatnya sudah bulat untuk merubah nasib di kota lain. Pernah suatu ketika Ibu jatuh , pergelangan tumit Ibu tergeser karena jalanan menuju kepersawahan yang tepat di belakang rumah Lara itu licin karena musim hujan. Lara kala itu melanjutkan pekerjaan Ibu menanam padi namun kakaknya tidak mau membantu alasannya tidak bisa kerja berat nanti sakit. Hampir dua minggu lamanya sawah berukuran 20 x 400 m2 itu siap diwarnai Lara dengan hijaunya bibit padi secepat kilat.
Lara yang berparas manis dengan tahi lalat di dengan hidung atas sebelah kanan bak gadis india itu , di kenal oleh warga kampung sebagai tulang punggung keluarga ada juga yang mengatakan Lara adalah anak laki-laki dalam keluarga itu.Bagaimana tidak Lara sanggup mengangkat padi seberat 50 Kg dengan sorongan. Mampu mengangkat padi 20 Kg dengan di pikul. Sungguh wanita perkasa.
Beberapa waktu kemudian setelah panen tiba sawit tersusun bagai catur di persawahan. Ayah menanamnya. Ibu sangat marah.“ Jika sawah telah di tanami sawit maka sawah akan kering dan padi pun tak kan berhasil jadi keluarga harus makan dari mana, jelas Ibu kepada Ayah”. Pertengkaran  ini terus saja berlanjut Ibu tidak bisa mengerti kenapa Ayah begitu. Karena salah satu alasan itu juga Lara bersikeras untuk merantau.
***
>>>Cinta Pertama Lara<<<
Rumah Lara dikelilingi oleh pemohonan rimbun dengan lebar yang cukup luas sehingga para petani dari jauh yang bersawah di sekitar rumah Lara itu menitipkan kendaraannya di rumah Lara.
Saat itu ada seorang pemuda yang menitipkan kendaraannya di rumah Lara. Pemuda itu terus memandangi Lara penuh maksud sepertinya mempunyai rasa yang khusus. Pemuda itu bernama Fajar. Ibu mengetahui hal itu dan melarang Lara dekat dengannya. Karena keluarga Fajar tidak menyukai keluarga Lara. Suatu saat Fajar mengajak kencan Lara ke kota Berandan namun Lara menolaknya. Lara memang dilarang keluar dengan laki-laki oleh Ibunya terkecuali pergi dengan teman sekolahnya. Namun saat itu Lara baru saja tamat SMK di kota Susu.
Fajar pun pantang menyerah dan semakin rajin pergi ke sawah Ayahnya yang bersebelahan dengan sawah Ayah Lara. Padahal dahulu tidak pernah Fajar membantu Ayahnya yang sudah tua itu. Tapi karena ada kembang sawah yang manis” Lara”, Fajar rela berpanasan dan berpeluh di sawah saat itu.
Bagi Lara perjuangan Fajar untuk mengambil hatinya itu kurang gigih. Lara sempat ada perasaan pada Fajar namun Ibu tak menyetujui jadi Lara mundur teratur. Ditambah lagi Lara melihat Fajar adalah sesosok laki-laki yang terlalu pamer dan membangga-banggakan harta orang tua nya serta tidak menghormati Ibu Lara yang saat Ibu Lara dalam keadaan pendengaran yang kurang nomal. Fajar seakan mengacuhkan Ibu yang kala itu ada dalam pembicaraan mereka.
Saat itulah cinta Lara seakan redup untuk sang Fajar. Lara selalu memendam perasaannya sampai Lara benar-benar menemukan cinta sejatinya. Lara lebih memilih Ibu dari pada hanya sekedar sesosok pemuda yang belum tentu tulus mencintainya itu. Setiap kali Fajar datang kerumah untuk menitipkan kendaraannya Lara langsung masuk kedalam rumah dan tak keluar sampai Fajar pulang dari sawah.
***
Langit begitu putih , awan menari-nari sembari menghiasi pepohonan. Lara dan Ibu duduk diatas pondok dibelakang rumah Lara sambil memandangi sawah yang sedang dibajak. Tak lama kemudian brem—brem terdengar suara kendaraan dari atas bukit Muri,  Abang Fajar datang untuk melihat sawahnya. Dia mampir dan duduk di pondok bersama dengan Lara.
“ Sudah tamat SMK gak kuliah ra?”. Anak saya sudah dapat undangan mendaftar di UNIMED Medan.
Ibu hanya menjawab ya nanti , Lara pun tidak banyak berkata. Lirih dalam hati Lara sangat ingin berkuliah juga seperti anaknya itu. Sudah hampir setahun Lara menganggur di rumah. Padahal cita-cita Lara setelah tamat SMK langsung kuliah sambil kerja.
***
Waktu terus berlalu bagai membalikkan telapak tangan tapi tidak bagi Lara. Teman –teman terus bertanya , “ gak kuliah ra, udah nikah ? atau udah kerja dimana, dengan wajah sedikit gembira menutupi kesedihan  , senyum selebar setengah cm mencoba menjawab dengan lapang dada , “belum,  masih dirumah aja”.
Setahun kemudian Hamid menikah dengan teman kerjanya di Batam. Ibu terkejut karena Hamid terkesan pendiam dan jarang bergaul dengan perempuan katanya malu. Ibu juga tak pernah mendengar kalau-kalau anaknya itu pernah punya pacar.  Sebelum itu Ibu menerima sepucuk surat dan dua lembar foto Hamid dan Yuna calon istri Hamid.
Assalammualaikum ,w.r, w.b.
Ibu , kabar Abang di batam baik-baik saja , bagaimana dengan Ibu, adik –adik dan ayah di kampung?.
Bu , Abang di sini sudah punya pacar , sebagaimana foto yang Abang kirimkan juga , dia anak medan yang juga bekerja di Batam sebagai kasir ditempat kerjaan Abang , rencananya bulan depan kami mau menikah. Bagaimana  menurut Ibu,  apa Ibu menyetujuinya ?
Pertengahan bulan depan Abang akan pulang membawa calon istri Abang itu untuk di kenalkan kepada keluarga kita.
Salam kangen
Buat ibunda
Keluarga Lara mulai bermufakat , menceritakan perihal surat yang baru saja datang kepangkuan Ibu itu. Namun  Ayah hanya mengatakan “oh ya sudah”. Ibu  sangat terpukul karena Ayah Lara memang tidak ada tanggung jawab dan kepedulian  sedikitpun kepada anaknya yang sudah membiayai dan membantu keluarga , Ibu seakan single parent saja.
 Semua keluarga diundang. Hampir sebulan Ibu sibuk menyiapkan acara pernikahan Hamid tersebut. Saat itu Sari kakak Lara yang satunya lagi sedang menyelesaikan D3 Manajemen Informatikanya di Palembang. Ibu mengabarkan berita bahagia ini kepada Sari , Sari begitu terkejut .
“Kak sedang apa, nih minggu depan  nanti Abang mau nikah , kakak bisa pulang , tanya Lara lewat telepon seluler”.Ya ra  , owh dengan orang mana , kok tiba tiba “kata Sari.
Yah Sari bisa pulang kan , biar kita kumpul lah disini , sama orang Medan  tapi dia kerja ditempat abang juga di Batam , tambah Hamid setelah diberikan telepon genggam oleh Lara. Waduh , sepertinya tidak  bisa nih bang, Sari lagi sibuk mau ujian sidang minggu ini di  kampus. Ini  Sari lagi pening belajar biar bisa jawab nanti.“Ow gitu yah, ya sudah tidak apa-apa , abang mohon do’a restumu saja. Semoga Sari bisa lulus di sidang nanti”.
Satu minggu kemudian Hamid dan istrinya kembali ke Batam. Mereka tinggal di kos-kosan menyewa sebuah kamar. Maklum biaya sewa rumah sangat mahal di Batam. Keluarga istri Hamid bersikukuh ingin mereka tinggal di Medan. Sementara Hamid tidak mau , karena memang tidak ada pekerjaan disana. Belum lagi keluarga istrinya itu melimpahkan nafkah kepada Hamid yang gajinya tidak terlalu besar. Hamid  merasa tidak kerasan tinggal disana.
***
Hari pertama Lara ke Langsa disambut dengan penuh gembira. Lara selalu diberi kebahagiaan diawal, sering di ajak jalan-jalan , namun itu tidak berjalan lama. Lara tidak pernah meminta sesuatu apapun , namun saudara Lara Bunda Mina selalu memberikan uang saku dan langsung naik jabatan menjadi kepala sekolah ditempat iya bekerja. Sekolah  itu adalah milik Bunda Mina. Lara awalnya adalah guru setelah 2 tahun lara diangkat menjadi kepala sekolah disana.
Hal tersebut di atas ternyata membuat Sari yang juga tinggal di Langsa bersama Lara itu merasa iri hati. Sari sering memarahi Lara tanpa alasan yang jelas. Sari selalu menyuruh-nyuruh Lara dengan nada membentak. Lara sangat bersedih hati , Lara selalu mengingat ibu di kampung. Namun Lara cepat saja menghapus air matanya dalam hatinya ini adalah pilihan Lara dulu pergi meninggalkan Ibu untuk merubah hidup menjadi lebih baik lagi.
Udara sejuk terasa panas bagi Lara. Setelah setahun di Langsa dengan perlakuan kakaknya yang seperti itu Lara semakin menutup diri. Tiba –tiba Bunda Mina menyuruh Lara untuk berkuliah. Lara disuruh mendaftarkan kuliah sesuai dengan yang iya sukai. Lara langsung mengatakan ingin masuk di Fakultas Ekonomi di Langsa, Bunda Mina menyetujuinya. Namun Bunda Mina juga berkata lebih baik masuk Fakultas Keguruan saja, peluang PNS nanti guru itu lebih banyak penempatannya dan terus berkembang ketimbang  Fakultas Ekonomi  itu sangat sulit.
Lara hanya mengiyakannya. Lara mau masuk Fakultas Keguruan saat itu asalkan kuliah di Fakultas Ekonomi tidak keluar.” lirih Lara dalam hati”.
Tak lama Lara masuk Fakultas Ekonomi di Langsa , Sari juga masuk di Fakultas yang sama. Sari waktu itu sudah tamat D3 di Palembang, Sari juga di suruh Bunda Mina untuk melanjutkn S1 di Fakultas Ekonomi.
Lara dan Sari pergi kuliah bersama, setiap pulang kuliah Lara selalu dimarahin. Tahu saja pasti ada sesuatu yang di berikan oleh Bunda Mina. Padahal Bunda Mina tak pernah membedakan mereka berdua.
Badan penuh peluh , Lara berganti pakaian dan makan di meja makan sambil menonton televisi bersama Bunda Mina dan Sari. Tiba-tiba Bunda Mina menanyakan lagi kepada Lara “ kapan Lara mendaftar di Fakultas Keguruan?”, bukannya sudah tutup pendaftaran Bunda, ya coba dilihat dulu , ya tapi kan Lara sudah kuliah di Fakultas Ekonomi. Lara gak mau keluar dari Fakultas Ekonomi itu Lara mau masuk di Fakultas Keguruan asalkan kuliah Lara di Fakultas Ekonomi tetap jalan, baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu dan kalau memang kamu sanggup Bunda izinkan dan akan membiayainya.
Lara terhanyut dalam pembicaraan kala itu. Ada perasaan senang sekaligus gundah dalam batinnya “ apa aku bisa”. Lara mengambil keputusan itu tidak lain adalah untuk menghindari hujan repetan kakaknya yang selalu iri kepada Lara. Lara berfikir dengan hal ini akan mengecilkan peluang bagi kakaknya itu untuk memarahinya.
Hal tersebut di atas berhasil , intensitas pertemuan antara Lara dan Sari membuat sari tak pernah memarahi Lara lagi , bagaimana tidak Lara dan Sari hanya bertemu di malam hari.
***
Minggu itu lara tidak berkuliah... .“ Jika ada yang bilang ku tak baik jangan kau dengar...jika ada yang bilang ku berubah jangan kau dengar... lagu nada panggilan sari terus berdering nomor tak di kenal memanggil, Lara memanggil Sari lalu Sari mengangkat telpon tersebut.
“Halloo , assalammualaikum , kak . . ., ini Rifa , rumah kita terbakar tadi pukul 10.00 wib , kami semua baik-baik saja hanya saja rumah dan isinya tak bisa kami selamatkan. Sari menangis.
Lara bingung , apa sebenarnya yang terjadi , karena Lara hanya mendengar samar-samar percakapan antara Sari dan Rifa di telepon, Lara khawatir terjadi apa-apa kepada Ibunda di kampung.
Bunda Mina menelepon semua keluarga yang bisa pergi membantu saat itu, Sari masih bisa membawa pakaian dan sesuatu lain yang diperlukan sementara Lara hanya melamun. Selama 2 jam perjalanan menuju kampung Lara hanya diam saja
Sampainya di kampung , Lara membuka mobil tak ada satu barang pun yang di bawanya termasuk handphone. Yang ada dalam benak Lara hanya Ibu , Ibu dan Ibu.
Rumah Lara penuh dengan kerumunan warga kampung. Lara  bingung Ibu ada dimana, lalu Lara melihat Rifa dan menanyakan kepadanya dimana Ibu. Teryata Ibu duduk menangis di pondok yang biasa mereka berkumpul di sana dulu. Lara sontak langsung memeluk Ibu , Ibu terkejut dan kembali menangis. Tak lama Lara langsung melihat rumah dengan warna hitam pekat itu namun dihati nya rumahnya tetap sama seperti yang dulu , rumah dimana mereka selalu bergembira , berkumpul bersama-sama.
Belum sempat masuk kedalam rumah Lara mendapati ayah di pintu masuk langsung memeluk ayah dengan penuh haru. Selangkah demi selangkah Lara melihat dinding yang penuh hitam. Sampailah Lara dikamarnya , ada Abang rupanya disana Hamid baru saja pulang karena bertengkar dengan istrinya, Lara lalu memeluk Hamid juga dan menangis.
Setelah puas melihat rumah bahagianya itu Lara kembali menemani Ibu. Ibu menceritakan perihal kejadian kebakaran itu. Semua warga kampung melihat dan memperhatikannya.
Semua warga tampak membantu. Lara melihat mencari-cari Fajar , pemuda yang mencintainya dulu sebelum iya berangkat ke Langsa , namun dia tidak ada. Lara semakin tak menyesal menolaknya waktu itu.
Lara , Sari, Rifa dan Hamid sibuk membersihkan hitam di rumah. Ibu hanya termenung. Lara saat itu menge-cat rumah mengangkat barang-barng lalu ke pasar dengan Ibu. Setibanya di pasar lara merasakan tubuhnya sangat kecapeaan lalu pingsan di tengah keramaian. Ibu terus saja menangis kalau-kalu terjadi apa-apa dengan Lara. Lara juga tak mengerti kenapa dia seperti itu karena dulu dia adalah wanita yang kuat tetapi setelah 1 tahun di langsa dia menjadi lemah. Hal itu mungkin disebabkan Lara tidak pernah kerja berat lagi.
***
Tak lama kejadian itu istri Hamid malah membuat masalah yang tidak di sukai oleh Ibu , tak lalu mereka bercerai , ini semakin membuat Ibu terpukul dan Hamid kembali ke batam setelah dibujuk oleh ibu.
***
Lara kuliah seperti biasanya. Lara pergi kuliah dengan becak. Bukan tidak ada kendaraan tetapi saat itu Lara belum bisa mengendarainya. Ada rasa cemburu di dalam batin menggelayut kapan bisa seperti mereka pergi kuliah dengan naik sepeda motor atau di jeput pacarnya. Belum lagi kejadian kebakaran yang menimpa rumahnya itu lara seaakan tidak bersemangat.
Lara ingin mempunyai pacar. Suatu ketika Lara di comblangin oleh teman satu kampusnya di fakultas Keguruan. Pria yang  sering di panggil Maman itu adalah temannya Sarah di Kota Lintang Kuala Simpang.
Maman bertubuh tegap, putih dan ganteng. Maman sangatlah penyabar , sungguh seseorang yang sangat di kagumi oleh Lara. Lara sangat berbahagia dengannya. Mereka bercengkrama. Maman mendengarkan tentang karir dan pendidikan Lara. Sungguh ada rasa malu dalam hati Maman di tidak ada apa-apanya dibanding Lara.
Lara dan Maman selalu berjumpa saat lara memintanya. Lara sangat ingin di manja oleh Maman. Mereka pergi ke Kuala Langsa , saat itu mereka saling berjanji tak kan menyakiti satu sama lain , tidak akan menyatakan kata perpisahan. Jika ingin putus maka sama-sama akan menyebutkannya.
Namun ditengah kebahagiaan Lara dengan Maman , tiba tiba maman menghilang. Lara sangat bersedih. Semangat Lara runtuh untuk seketika yang membuat keadaan fisik Lara menjadi lemah itu di tandai dengan turunnya berat badan Lara. Lara semakin kurus saja.
>>>Empat bulan kemudian<<<
Lara terus bersemangat menjalani hari-hari pagi bekerja dan sorenya kuliah, walau pun dalam hatinya hancur. Suatu ketika Lara melihat sesosok pemuda tampan , manis tinggi, inilah tipe pria yang di sukai Lara , dia mengingatkan Lara dengan Maman kekasihnya yang dulu menghilang. Dalam hati Lara ingin lebih dekat dengannya , tapi bagaimana caranya. Lara bingung.
Waktu itu Lara sudah semester 7 sementara pemuda tadi baru saja masuk semester 1. Lara saat itu memang ingin mengulang 2 mata kuliah di semester satu. Dari  awal Lara sudah mencoba menanyakan kepada Arman teman satu semesterannya. Apakah ada temannya di semester 1 yang bisa ditanyai untuk informasi kapan –kapan saja jadwal mata kuliah yang akan di perbaiki oleh lara. Hal itu di lakukan Lara untuk jaga-jaga siapa tahu jadwal nya sering berubah. Namun Arman tak memberikan nomor telepon temannya itu yang ternyata bernama Rian dia adalah orang yang selama ini Lara inginkan. Tapi lara mencoba sabar kalau memang jodoh tak kan lari gunung dikejar.
Lara dan Rian sering bertemu dan berjumpa pandangan mata ada sesuatu tersembunyi di dalam hati mereka berdua.
Suatu ketika Lara menanyakan kepada Dian temannya itu apakah ada temannya di semester 1 yang wanita untuk ditanyai jadwal mata kuliah. Tapi saat Lara meminta nomor telepon tersebut Rian ada di situ yang langsung menyahut nomor saya saja kak. Pucuk  di cinta ulam pun tiba. Memang dari dahulu itu yang Lara mau.
Sejak saat itu mereka berdua sering sms_an. Tak lama kemudian Rian menembak Lara , ternyata Rian juga menyukai Lara. Lara meminta waktu 2  hari untuk menjawabnya. Dalam hati Lara masih ingin akan kehadiran Maman. Tapi Lara menyerah karena nomor telepon maman sudah tidak aktif lagi. Suci teman maman yang mencomblangi mereka pun tidak mengetahui di mana keberadaan Maman.
***
Hari ini memang sangat membingungkan bagi Lara. Beberapa waktu yang lalu Lara di taksir oleh seorang pria yang cukup tampan. Mereka terpaut umur 8 tahun  . Perbedaan umur yang cukup jauh itu membuat Lara semakin bingung.
Lara semakin bingung lagi karena sebelumnya ada dua pria yang mencoba mendekati lara. Lara memang banyak di sukai oleh para pria yang dekat dengan nya. Karena Lara sangat ceria dan suka bercanda serta pintar pula. Namun dalam hati yang paling dalam Lara lebih menyukai pria yang masih berondong  itu.
Rian selalu memberikan perhatiannya kepada Lara sedangkan dua pria lagi Budi dan mas Landi sepertinya sangat sibuk sehingga hanya sesekali saja memperhatikan Lara tidak hal nya dengan pesan atau telepon.
Beberapa hari ini Lara terus menilai dan meneaalah mereka bertiga. Melihat baik buruknya mereka , namun Lara belum mendapatkan jawabannya. Lara mencoba bertukar pikiran dengan teman dekatnya, Lara terus membandingkannya dengan kenyataan yang ada. Tetapi hal tersebut belum cukup.
Lara menginginkan seseorang yang bisa memahami , mengerti dan perhatian kepada lara. Rian yang tergolong masih adik lara itu sungguhlah membuat hati Lara bahagia. Budi  dan Mas Landi pemuda yang sudah cukup mapan namun tidak mengena di hati Lara , inilah cinta tak dapat dipaksakan. Lara juga harus berpikir rasional. Keputusan yang Lara ambil malam ini sangat menentukan hari-hari Lara selanjutnya.
Awalnya Lara hampir membuka hatinya untuk Budi tetapi entah mengapa beberapa waktu yang lalu Lara mendengar kabar kalau Budi adalah seorang duren alias duda keren. Hal itu sebenarnya tak menyurutkan hati lara namun Lara perlahan mundur karena Budi tidak memberikan perhatian lagi pada Lara. Sementara itu Mas Landi orangnya agak sedikit pulgar atau “ gatal “ jadi lara harus berpikir seribu kali lipat lagi untuk memilihnya.
Setelah melakukan sholat dan berdoa lara memutuskan pilihannya. Ditambah  lagi waktu yang di berikan Rian sudah habis dan Rian terus saja menanyakan apa jawaban dari Lara atas permintaaannya itu.
Lara menjawab iya.
>>> Harapan ini cinta terakhir <<<
Iya Lara mau menjadi kekasihmu , tapi Lara ingatkan Lara orangnya sibuk , Lara hampir tidak ada waktu untuk pacaran selain itu lara orangnya cerewet apakah rian bisa tahan. Rian menjawab iya apapun atas kekasih kita harus bisa dipertahankan. Lara memegang teguh jawaban Rian itu.
Hari-hari baru di jalani oleh kedua insan ini. Pasangan yang baru saja di mabuk asmara. Tapi mereka belum pernah ketemu semenjak baru jadian. Karena pada saat itu sedang hari libur tahun baru islam.
Dua hari kemudian mereka baru berjumpa dan ketemu di sebuah Restoran  terkenal di kota Langsa Ayam Penyet Pak Ulis , lalu mereka makan bersama, bercanda tawa riang berdua.
 Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 wib Lara mengajak Rian yang di sebutnya ayank itu untuk pulang karena memang sudah mau maghrib. Rian mengiyakan , tetapi katanya ke kosan dia dulu , kebetulan memang Rian di Langsa ngekos. Karena orang tuanya tinggal di Perlak.
Sesampainya di rumah kosnya , sebenarnya Lara tidak ingin masuk , di belum mempercayai Rian sepenuhnya , dia tidak mungkin masuk apalagi Rian bilang tadi di rumah tidak ada orang lain dia sengaja mampir ke rumahnya dulu untuk menghidupkan lampu karena nanti mau pergi lagi ke tempat lain setelah mengantar Lara pulang. Tetapi Lara yang saat itu sedang memakai jilbab merasa jilbab nya sudah agak berantakan dan menanyakan kaca kepada Rian , Rian mengajaknya masuk. Entah memang ada setannya tak tau juga setelah Lara membenarkan letak jilbabnya setelah selesai tiba-tiba Rian minta ingin  menciumnya tetapi Lara menolaknya. Rian terus membujuk Lara , lalu Lara bilang boleh tapi di pipi saja lalu Rian mengiyakan.setelah mencium pipi Lara tiba-tiba Rian... mencium tepat di bibir manisnya itu. Langsung Lara menyingkir dan marah . Rian minta maaf dan memeluk Lara.
Lara memaafkannya. Lara merasa tidak ada tenaga lagi saat itu. Kepalanya terasa sedikit pusing. Maghnya juga tiba-tiba kambuh. Dunia terasa gelap.
Lara pingsan tiba –tiba. Rian panik dan terus saja menepuk-nepuk pipi Lara supaya dia sadarkan diri, tetapi Lara tak juga bangun. Rian mencoba mencari minyak angin tetapi tidak ada. Lalu Rian keluar mencoba mencari pertolongan tetapi tidak ada semua sunyi sedang menjalankan ibadah sholat maghrib karena pada saat itu memang sudah saatnya sholat maghrib.
Rian kehabisan akal. Rian terus saja menepuk-nepuk pipi Lara dan akhirnya Lara bangun juga. “Cayang kenapa, apa sayang terkejut karena telah ayang cium tadi. Apa  cayang marah” tanya Rian khawatir. Tidak jawab lara serak. Sakit kata Lara. Saat itu Lara memang sangat tidak menjaga pola makannya. Sehingga Lara kambuh lagi.
 Setelah Lara sadar , Lara menjajak Rian untuk mengantarnya pulang Lara takut dimarah oleh keluarganya karena pulang telat. Rian mengiyakan lalu mengantarnya pulang dengan keadaan yang sempoyongan itu. Dalam hati Lara tak menyesal iya menerima cintanya.
Lara lalu tidur , karena memang kelelahan. Rian terus saja memberikan perhatiannnya kepada Lara lewat pesan singkat. Sampai suatu ketika Rian harus pulang kampung dan tidak memberitahukannya kepada Lara. Lara sangat bersedih hati karenanya. Ditambah lagi Rian selalu saja pulang di saat Lara punya waktu untuk berjumpa dengannya maklum saja Lara sangat sibuk pagi kerja dan sore harus kuliah di dua Universitas. Hanya sabtu dan minggu sore saja mereka dapat berjumpa. Namun itu pun tak dapat di berikan oleh Rian.
Rian selalu meminta sesuatu yang tak dapat di berikan oleh Lara. Rian minta untuk pergi malam minggu dengan Lara. Datang kerumah Lara. Ingin mencium Lara lagi. Semua itu sungguh tak mungkin di berikan lara kepada Rian. Keadaan ini sungguh membuat lara tertekan.
Besoknya Lara di jemput lagi oleh Rian mereka jalan-jalan lagi. Kali ini mereka jalan –jalan ke arah PTPN 1 langsa. Lara yang saat itu memang sudah lelah sebenarnya mengajak Rian duduk-duduk saja tetapi Rian bersikeras untuk jalan-jalan sambil bercanda. Lara berjaga-jaga dengan memegang atau memeluk Rian di kendaraan. Lara bilang ke Rian yank pening cyank kenapa pening , Rian memegang erat tangan Lara takut kalau-kalau Lara jatuh sangat bahaya karena saat itu mereka berdua sedang dalam perjalanan berkendara. Namun tak berdaya lagi tiba-tiba Lara pingsan Rian mengurangi kecepatan dalam mengedarai lalu berhenti perlahan. Lara pun jatuh terkulai di tanah.
Rian panik sementara orang –orang yang ada di jalanan yang lewat itu terus heran tapi tak ada yang menolong sampai ada yang lewat ternyata di adalah pemilik toko  di dekat kampus mereka berdua lalu Lara di bawa ke RS cut mutia sementara Rian mengikuti dari belakang.
Sampainya di RS Rian menggendong Lara layaknya istrinya langsung ke ruangan UGD Lara ditangani oleh dokter. Tak lama kemudian Lara sadar dan di suruh di opname tetapi Lara tidak mau Lara ingin pulang saja. Rian marah  kepada Lara boleh pulang asalkan sudah kuat berdiri. Lara dan Rian pun pulang sesampainya dirumah Lara dengan wajah pucat tak di perdulikan oleh keluarganya Larapun diam saja tak memberitahukan padahal Lara tadi telah masuk RS.
Lara meminum resep dokter yang di  beli oleh Rian. Lara juga sudah lama tidak menghubungi  Ibu dan Abang di kampung memang sedang sibuk-sibuknya apalagi sedang sakit. Dalam hati Lara sangat merindukan Ibu.
Hari terus berganti , jadwal kegiatan Lara semakin padat , tugas kuliah Lara juga semakin bertumpuk sementara waktu untuk penyelesaian semakin sedikit karena Lara harus sudah datang setiap pukul 14.00 wib setiap harinya untuk latihan tari ranuup lampuan untuk acara wisuda di kampusnya yang jurusan ekonomi.
Musik ranuup terus mengalun Lara pun menari dengan indahnya. Saat itu Lara sebagai putri di tarian itu. Sontak dalam keindahan gerak tarian Lara, Lara jatuh pingsan. Rian yang juga sedang ada di aula tempat Lara latihan itu langsung mematikan musik dan mendatangi Lara. Teman- teman Lara panik.
Selama satu minggu Lara terus saja pingsan. Lara tak memberitahukan perihal sakitnya kepada ibu dan ayah di kampung. Sari kakaknya terus saja marah “ sibuk nari aja , gak usah makan –makan lagi bikin malu saja asik pingsan-pingsan aja di kira orang tidak  di kasi makan, dan tidak di perhatikan  “.
Lara yang sedang sakit cuma bisa menangis di dalam hati. Suatu hari Lara tetap pergi kerja namun saat hendak masuk ke kelas lara pingsan lagi lantas teman kerjanya langsung memarahi Sari untuk segera membawa lara ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Lara di vonis hampir mengindap sakit jantung akibat sakit maghnya yang sudah lumayan parah. Lalu datang seorang psikolog di rumah sakit itu menanyakan kepada lara apa Lara mempunyai masalah, apa keluarga Lara tidak perduli kepada Lara. Lara harus kuat lara harus semangat.
Lara menceritakan  perihal Lara berkuliah di dua universitas itu. Psikolog itu memahami apa masalah Lara sebenarnya. Mendengar hal tersebut Bunda Mina langsung pulang dari Medan esokkan harinya Lara di bawa kerumah sakit Cut nyak Dhien disana Lara diberi suntikan neurobion. Di RS cut Nyak Dhien lara di vonis kelelahan saja dan perlu istirahat total selama satu minggu akibat dari pola makan lara yang berantakan , susah tidur dan sering nyeri di bagian kepala.
Kali ini Lara terbaring di rumah. Lara tidak ke kampus. Rian menyuruhnya untuk istirahat kalau sudah pulih dan benar-benar sembuh sayang baru boleh pergi kuliah.
Rian mengingatkan , menanyakan keadaan Lara dan selalu setia kepada Lara. Sampai suatu ketika saat keadaan Lara agak sedikit pulih Rian harus pulang kampung namun rian pulang di saat hari pertemuan mereka Lara sangat kecewa dan marah kepada Rian. Padahal Lara sudah hampir pulih sedikit saja kecewa Lara seperti lemas dan kekurangan darah , Lara juga bingung sebenarnya punya penyakit apa karena semua vonis dokter belum ada bukti pastinya.
Suatu hari setelah pertengkaran hebat Lara dan Rian tetapi mereka kembali baikan. Mereka pergi ke Laboratorium Azizi. Disana fasilitasnya lengkap dan dokternya selalu ada.
Lara memeriksakan keadaannya ternyata Lara sakit magh. Sebab mengapa Lara sering pingsan adalah karena peredaran darah Lara yang kurang stabil agak melemah dan Lara sering kekurangan oksigen. Lara memberitahukannya kepada Rian. Rian mengingatkan agak jangan terlalu lelah dan banyaklah mengkonsumsi air putih.
Pada minggu sore saat Rian hendak kembali ke Kota Langsa. Rian berbohong kepada Lara mengapa rian telat sampai. Ternyata Rian menjumpai wanita lain. Sampai suatu ketika Lara mengetahui hal tersebut Lara marah besar lalu Rian memutuskan hubungan mereka. Alasan Rian karena Lara marah tanpa alasan dan selalu mengatur-ngatur Rian. Rian ingin mereka berteman saja.
Sungguh sangat menyakitkan bagi lara , entah itu alasan Rian saja Lara tidak ingin mau tahu lagi. Suatu ketika Lara mendengar Rian sakit, Lara menjenguknya dengan Mutia temannya pergi ke kos nya Rian. Namun sambutan Rian begitu dingin. Saat itu Lara menyerah untuk mencoba mempertahankan hubungannya dengan Rian.
Inilah keredupan yang sungguh menyakitkan hati Lara . . .
Lembayu menyeruak larut malam
Cemara termanggu sayup samar
Lara pesona merayap cahaya
Sendu redup sewindu
Nasehat teman.  . .
Jangan jadikan mereka sebagai patokan
Jangan juga tutup hati untuk orang lain
Jangan pula langsung menerima cintanya
Seperti kisah cintaku selama ini’
Tapi buatlah seaakan semua berjalan apa adanya
Tanpa beban . . .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar