Aku Murka . . .
Setelah ku analisis dengan hati dan pikiran , dimulai dari su uzon , pikiran jernih , positif dan negatif.
Bagiku sangat tidak masuk akal , 1 minggu bukan waktu untuk masing-masing meredam emosi tapi waktu untuk membuat aku terutama su uzon.
Tega , jahat mungkit itu kata yang tepat buat kamu yang kalu bisa lihat postingan ini tapi itupun kalau berguna
kalau aku jadi kamu detik ini juga aku selesaikan masalah , tapi iyalah kamu gak tau dan gak mau tau keinginan aku.
cut fitri
Jumat, 23 Oktober 2015
Rabu, 07 Oktober 2015
Sabtu, 03 Oktober 2015
Jumat, 02 Oktober 2015
2.3 Jenis-jenis
Kalimat
Menurut
kusno (1986: 105) kalimat berdasarkan beberapa titik tinjauan sebagai berikut:
1.
Berdasarkan
Isi atau Tanggapan yang Ditimbulkannya
a.
Kalimat
berita; yaitu kalimat yang isisnya memberitahukan sesuatu, dan yang pada
umumnya menimbulkan tanggapan bagi pendengar atau pembaca yang berupa isyarat
atau sikap.
b.
Kalimat
tanya; kalimat yang isisnya berupa pertanyaan, dan reaksinya berupa jawaban.
c.
Kalimat
perintah; yaitu kalimat yang isisnya berupa perintah agar seseorang melakukan
atau berbuat sesuatu, dan rekasinya berupa tindakan.
2.
Berdasarkan
Jenis Kata yang Menduduki Fungsi Predikat
a.
Kalimat
verbal; yaitu kalimat yang predikatnya berupa atau terjadi dari kata kerja.
b.
Kalimat
nominal; yaitu kalimat yang predikatnya bukan kata kerja, mungkin kata sifat,
mungkin kata keterangan, kata bilangan, atau jenis kata lain.
Contoh :
-
Gedung
yang berada di dekat rumah saya, tinggi.( kata sifat)
-
Paman
saya seorang tentara. (kata benda)
-
Ibu
saya di luar kota.( kata keterangan)
-
Kucing
bibi lima(ekor). (kata bilangan)
3.
Berdasarkan
Susunannya atau Urutan Jabatannya
a.
Kalimat
logis ; yaitu kalimat yang bersusun biasa, atau kalimat yang prediketnya
didahului subjek(berpola DM).
Contoh :
-
Kemarin
ayah berangkat ke luar negeri.
S P
b.
Kalimat
infersi ; yaitu kalimat yang predikatnya mendahului subjek, atau kalimat yang
tersusun balik ( berpola MD).
Contoh :
1.
Inilah sekali pemandangan itu.
P S
4.
Berdasarkan
Bentuknya
a.
Kalimat
langsung ; yaitu kalimat yang sebagian unsurnya merupakan kutipan langsung dari
pembicaraan atau kalimat yang diucapkan orang lain.
Contoh :
-
“siapa
namamu?” tanya orang tua itu kepada anak kecil yang dijumpainya.
b.
Kalimat
tak langsung ; yaitu kalimat yang memberitakan pembicaraan atau kalimat orang
lain, tanpa mengutipnya secara langsung.
Contoh :
-
Orang
tua itu menanyakan nama anak kecil yang dijumpainya.
5.
Berdasarkan
Hubungannya dengan kalimat lain atau Berdasarkan Sifatnya
a.
Kalimat
bebas ; yaitu kalimat yang mampu berdiri sendiri.
Contoh :
-
Tuti
menangis.
b.
Kalimat
terikat atau kalimat tak bebas; yaitu kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri.
Contoh :
-
Kemarin
malam.
6.
Berdasarkan
Unsur yang Membentuknya.
a.
Kalimat
tak sempurna; yaitu kalimat yang dilihat dari bentuknya atau unsur yang
dimilikinya, tidak sempurna.
1.
Kalimat
elips; yaitu kalimat yang antara bentuk dan isisnya tidak seimbang.
Contoh : Pergi!
2.
Kalimat
minim; yaitu kalimat yang hanya terdiri dari satu kontur.
3.
Kalimat
minor; yaitu suatu kalimat yang hanya mengandung(terjadi dari) satu unsur inti
atau unsur pusat.
Contoh : Hampir habis.
b.
Kalimat
tunggal; yaitu kalimat yang unsur-unsur pembentuknya tunggal atau satu.
Contoh: Ayah membaca surat kabar di
teras.
1.
Kalimat
inti; yaitu kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti, atau kalimat yang
hanya mengandung subjek dan predikat.(kalimat sederhana).
Contoh : Ali bekerja.
2.
Kalimat
sempurna; yaitu kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh : Orang tuanya sedang dirawat di
rumah sakit.
c.
Kalimat
transformasi; yaitu kalimat yang merupakan hasil perubahan dari kalimat inti.
Contoh : Pemandangan indah.
d.
Kalimat
majemuk ; kalimat yang didalamnya mengandung pola kalimat lebih dari satu.
1.
Kalimat
majemuk setara(koordinat)
a.
Kalimat
majemuk setara menjajarkan
-
Ibu
menjahit baju di teras, ayah membaca surat kabar di ruang tamu, dan kaka
mencuci sepeda
b.
Kalimat
majemuk setara merapatkan (kalimat majemuk rapatan)
1.
Kalimat
majemuk rapatan sama subjeknya
2.
Kalimat
majemuk setara rapatan sama predikatnya
3.
Kalimat
majemuk rapatan sama objeknya
4.
Kalimat
majemuk rapatan sama keterangannya
5.
Kalimat
majemuk rapatan sama subjek dan predikatnya
6.
Kalimat
majemuk rapatan sama subjek, predikat, dan objeknya.
7.
Kalimat
majemuk rapatan sama subjek dan keterangannya.
8.
Kalimat
majemuk rapatan sama subjek dan objeknya.
2.
Kalimat
majemuk bertingkat(subordinat)
a.
Menambahkan
-
Ia datang ke rumah saya. Saya sedang tidur.
+
Ia datang ke rumah saya ketika saya sedang tidur.
b.
Memperluas
-
Orang
itu berkaca mata hitam.
c.
Menggantikan
-
Dia
memanggil anda.
3.
Kalimat
majemuk campuran adalah kalimat majemuk yang sekurang-kurangnya memiliki tiga
pola kalimat, dua di antaranya sejajar dan pola yang lain bertingkat.
Contoh:
Saya telah membaca sebuah buku yang
sangat menarik isinya dan baik sekali bahasanya.
Menurut
abdul chaer(2007: 240) jenis kalimat dapat dibedan berdasarkan berbagai
kriteria atau sudut pandang berdasarkan beberapa dikotomi pembagian:
1.
Kalimat
inti dan kalimat non-inti
Kalimat inti biasa juga disebut kalimat
dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap, bersifat
deklaratif, aktif, atau netral, dan afirmatif. Sedangkan kalimat noninti yaitu
kalimat inti + proses transformasi.
Contoh : - Nenek datang (inti)
-
Nenekku
baru datang dari Paris.( non-inti)
2.
Kalimat
tunggal dan kalimat majemuk
Kalau klausanya hanya satu, maka kalimat
tersebut disebut kalimat tunggal. Kalau klausa di daslam sebuah kalimat
terdapat lebih dari satu maka kalimat itu disebut kalimat majemuk.
Contoh:- Nenekku masih cantik.(tunggal)
-
Nenek
melirik, kakek tersenyum dan adik tertawa-tawa.(majemuk)
3.
Kalimat
mayor kalimat minor
Kalau klausanya lengkap,
sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan prediket, maka kalimat itu disebut
kalimat mayor. Kalau klausanya tidak lengkap, entah hanya terdiri dari subjek
saja, objek saja, ataukah keterangan saja, maka kalimat tersebut kalimat minor.
Contoh :- Nenek berlari pagi.(mayor)
-
Sedang
makan!(minor)
4.
Kalimat
verbal dan kalimat non-verbal
Kalimat verbal adalah kalimat yang
dibentuk dari klausa verbal, atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase
yang berketegori verba. Sedangkan kalimat non-verbal adalah kalimat yang
predikatnya bukan kata atau frase verbal: bisa frase nominal, ajektival,
adverbial, atau juga numeralia.
5.
Kalimat
bebas dan kalimat terikat
Kalimat bebas adalah kalimat yang
mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap, atau dapat memulai sebuah
paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang
menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat
berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap, atau menjadi pembuka paragraf atau
wacana tanpa bantuan konteks.
Contoh :
- Sekarang di Riau amat sukar mencarai terubuk( bebas).
-
Jangankan
ikannya, telurnya pun sangat sukat diperoleh( terikat)
2.4 Ciri – ciri Kategori Kata
Menurut
iskak dan yustinah ( 2008:134) yang di kutip Dalam Tata Bahasa baku Indonesia , kelas kata
dibagi menjadi 5 kelompok , yaitu : verba ; nomina , pronomina, dan numeralia ;
adjektiva ; adverbia ; dan kata tugas.
1.
Verba ( Kata Kerja )
Cirinya :
- Verba berfungsi sebagai predikat/inti predikat dalam kalimat.
- Verba mengandung makna dasar perbuatan, proses , atau keadaan yang bukan sifat.
- Verba yang bermakna keadaan tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti paling.
Misalnya :
- Pencuri itu lari.
- Mereka sedang belajar di kamar.
- Bom itu seharusnya tidak meledak.
- Orang asing itu tidak akan suka masakan Indonesia.
Verba lari
dan belajar mengandung makna perbuatan , verba meledak mengandung
makna proses , sedangkan verba suka mengandung makna keadaan.
a.
Verba
dilihat dari bentuknya :
- Verba asal : berdiri sendiri tanpa afiks. Contoh , ada , datang , mandi , pergi , tinggal , tiba , turun.
- Verba turunan
Verba turunan
dibagi lagi menjadi tiga ketegori , yaitu :
- Dasar bebas afiks wajib , seperti mendarat , melebar , mengering , membesar , berlayar , bersepeda.
- Dasar bebas afiks manasuka , seperti membaca , membeli , mengambil , mendengar , berjalan , bekerja.
- Dasar afiks wajib , seperti bertemu , bersua , menyelenggarakan , berjuang , mengungsi.
- Reduplikasi , seperti bejalan – jalan , memukul – mukul , makan – makan.
- Majemuk , seperti naik haji , cuci muka , mempertanggungjawabkan.
b. Verba dilihat
dari semantiknya/ maknanya :
- Verba transitif , diikuti objek , seperti jahit , baca , uji coba , dekatkan , lukiskan , perjelas , perbaiki.
- Verba tak transitif , tidak diikuti objek , seperti kalah , jatuh , pulang balik , mengalir , menginap , mengarang , mengopi , berkeinginan , bergembira.
2. Nomina ,
Pronomina , dan Numeralia ( kata benda , kata ganti , dan kata bilangan )
a.
Nomina
Ciri
– ciri nomina :
- Sebagai subjek dalam kalimat yang predikatnya verba,
- Dapat diingkari dengan kata tidak,
- Dapat diikuti adjektiva.
Nomina dilihat
dari bentuk dan makna:
- Nomina dasar , seperti gambar , meja , rumah , pisau.
- Nomina turunan , seperti perbuatan , pembelian , kekuatan.
b. Pronomina
Pronomina
merupakan kta yang dipakai untuk mengacu pada nomina lain.
Jenis – jenis
pronomina :
- Pronomina pesona , seperti saya, engkau , dia , mereka , -nya.
- Pronomina penunjuk , seperti ini , itu , sini , situ , sana.
- Pronomina penanya , seperti apa, siapa , mana.
c. Numeralia
Numeralia adalah
kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud ( orang , binatang , barang
, konsep ).
Jenis –jenis
numeralia ;
- Numeralia pokok , seperti dua, empat , delapan.
- Numeralia pecahan , seperti seperdua , separuh , sebelah.
- Numeralia tingkat , seperti kesatu , kesepuluh.
3. Adjektiva (
Kata Sifat )
Adjektiva adalah
kata sifat atau keadaan yang dipakai untuk mengungkapkan kata sifat atau
keadaan orang , benda , atau binatang.
Ciri – ciri :
- Adjektiva dapat diberi keterangan pembanding , seperti lebih , kurang , paling.
- Adjektiva dapat diberi keterangan penguat , seperti sangat , amat , terlalu.
- Adjektiva dapat diingkari dengan kata tidak , seperti tidak bodoh , tidak benar.
- Adjektiva dapat diulang dengan awalan se- , seperti sejelek – jeleknya.
- Adjektiva berakhir dengan akhiran tertentu , seperti duniawi , negatif.
4. Adverbia (
Kata Keterangan)
Ciri – ciri :
Adverbia dalam
bahasa Indonesia diklasifikasikan dengan mempertimbangkan bentuk , sintaksis ,
dan makna.
Bentuk adverbia
:
Kelompok 1 : sangat
, hadiam – diam , lekas – lekas , sedalam – dalamnya , sekuat – kuatnya ,
agaknya , habis – habisan , sebaiknya , sesungguhnya.nya , lebih , segera.
Kelompok 2 :
Sintaksis
Adverbia :
Kelompok 1 : lebih
tinggi , sangat indah.
Kelompok 2 :
jelek benar , marah sekali.
Kelompok 3 :
jangan lekas – lekas pulang.
Kelompok 4 :
tinggi sekali , agak cantik.
Kelompok 5 :
tiba – tiba sekali , kurang serempak.
Kelompok 6 : hanya
petani , hanya guru.
Makna adverbia :
agak , kurang , sering , dan selalu.
5. Kata Tugas
Jenis – jenis
kata tugas :
- Preposisi , seperti bagi , untuk , guna , dari , dengan.
- Konjungsi , seperti dan , atau , tetapi , agar , supaya.
- Interjeksi , seperti aduhai , astaghfirulloh , syukur.
- Artikel , seperti sang , sri , hang , dang.
- Partikel , seperti kah , lah.
2.5 Batasan Kategori Kata
Dalam
kamus-kamus bahasa inggris misalnya dicantumkan singkatan-singkatan seperti v.
Yang berarti verb atau kata kerja; verb ini biasanya dibedakan lagi menjadi
v.t. singkatan dari verb transitive atau katakerja transitif, v.i. singkatan
dari verb intransitive atau kata kerja intransitif. Singkatan lain yang biasa
dipergunakan untuk menunjukkan kelas kata adalah( Gorys Keraf, 2009: 53):
n : Noun ( kata benda)
ad. :
Adjective ( kata sifat)
adv. : Adverb ( kata Keterangan)
prep. : Preposition ( kata depan)
conj. : Conjuction ( kata Sambung)
2.6
Pembagian Jenis
Kata
Adapun
kesepuluh jenis kata itu( Kusno, 1986: 67) , adalah :
1.
Kata
benda ( nomina)
2.
Kata
kerja ( verba)
3.
Kata
sifat ( adjectiva)
4.
Kata
ganti( pronomina)
5.
Kata
bilangan ( numeralia)
6.
Kata
keterangan ( adverbia)
7.
Kata
sambung ( conjunctio)
8.
Kata
depan ( praepositio)
9.
Kata
sandang ( articula)
10.
Kata
seru ( interjectio)
Berikut ini, masing-masing jenis kata tersebut
akan diuraikan satu persatu.
2.6.1
Kata benda (
Nomina)
Menurut tata
bahasa tradisional, kata benda adalah semua kata yang merupakan nama diri, nama
benda, atau yang dibendakan. Dalam hubungannya dengan kalimat, kata benda pada
umumnya menduduki jabatan subjek atau objek. Nama diri dan nama benda merupakan
kata benda asli, yang pada umumnya berbentuk kata asal atau kata dasar.
Sedangkan pengertian kata atau sesuatu yang dibendakan, adalah kata benda yang
dibentuk dari jenis kata lain, baik melalui struktur morfologis maupun struktur
sintaksis. Proses pembenadaharaan kata melalui struktur morfologis ialah dengan
memberikan imbuhan-imbuhan tertentu pada jenis kata lain. Misalnya imbuhan pe-,
ke-, pe-an, ke-an, -nya, -an, dan per-an. Proses pembendaan kata melalui
struktur sintaksis ialah dengan meletakkan jenis kata tertentu dalam posisi
atau jabatan subjek dan objek, serta dengan memanbahkan kata ganti tunjuk itu, ini kata ganti penghubung yang, dan kopula adalah di belakangnya.
Berdasarkan
pengertian kata benda sesuai dengan uraian di atas, maka kita akhirnya dapat
membagi kata benda atas :
a.
Kata benda
kongkret;
yaitu kata yang menunjuk benda atau sesuatu yang dapat dilihat atau diraba,
baik yang berupa nama jenis ( kursi, sungai , laut , piring, dan sebagainya),
nama diri ( Toto, Jawa, Kuda, Merapi, Jakarta, dan sebagainya), maupun nama
zat( besi , minyak, intan, emas , dan sebagainya).
b.
Kata benda
abstrak;
yaitu kata yang menunjuk sesuatu yang tidak dapat dilihat atau diraba.
Misalnya: iman , mental, hasrat, ilmu, nafsu, dan sebagainya.
c.
Kata yang
dibendakan;
yaitu kata benda yang dibentuk dari jenis kata yang lain: perjalanan,
keramaian, keagungan, pemalas , kehendak, pelari, dan sebagainya, termasuk
pembendaan melalui srtuktur sintaksis: bermain itu, tidur(menenangkan pikiran),
belajar pun, dan sebagainya.
Selanjutnya,
untuk memudahkan kita dalam menentukan apakah suatu kata dapat dimasukkan
sebagai kata benda atau tidak, maka ciri-ciri yang dimiliki kata benda seperti
dibawah ini perlu sekali kita perhatikan.
a.
Kata
jadian yang dibentuk dengan afiks ke-,
pe-, ke-an, pe-an, per-an, -an, dan –nya,
dapat dicalonkan sebgai kata benda. Adapun sebagai penentu adalah ciri b dan c.
b.
Semua kat abenda dapat diperluas dengan menambahkan yang + kata sifat.
c.
Pada
umumnya menduduki jabatan subjek atau objek da;am kalimat. Sebab, secara
fungsional, kedua jabatan ini hanya dapat ditempati oleh kata benda. Oleh
karena itu, apabila ada jenis kata lain yang menduduki kedua jabatan tersebut.
Ditransposisikan menjadi kata benda dengan menambahkan kata atau partikel
tertentu. Misalnya:
-
Melukis
adalah pekerjaan yang rumit.
-
Tertawa
itu sehat.
-
Beratnya
tujuh puluh kilogram.
-
Belajar
pun memerlukan metode.
2.6.2
Kata kerja(
verba)
Kata kerja
adalah kata yang menyatakan suatu perbuatan atau laku. Dilihat dari bentuknya,
kata kerja dapat dibedakan atas:
a.
Kata kerja aktif; yaotu kata
kerja yang berdasarkan bentuk katanya berawalan me-, atau ber-, sedangkan
berdasarkan fungsinya dalam kalimat, kata kerja tersebut akan berfungsi sebagai
prediket yang subjeknya melakukan pekerjaan.
Contoh : membaca, menangis, memakai,
melangkah, berjalan, berpikir, berjualan, dan sebagainya.
b.
Kata kerja
pasif;
yaitu kata jerja yang berdasarkan bentuk katanya berawalan di-, ter-, atau ke-
sesangkan berdasarkan fungsinya dalam kalimat, kata kerja tersebut akan
menduduki jabatan predikat yang subjeknya dikenai pekerjaan atau perbuatan.
Contoh : dimulai, ditulis, tersentuh,
terjatuh, kehujanan, kejatuhan, dan sebagainya.
c.
Kata kerja aus; yaitu kata
kerja aktif yang tidak memerlukan awalan me-, atau ber-. Kata kerja ini dapat
juga disebut kata kerja tanggap atau kata kerja mandiri, karena pekerjaan atau
perbuatan tersebut mengenai diri sendiri. Dikatakan kata kerja aus, karena
mula-mula kata kerja ini berawalan me-, tetapi oleh karena awalan tersebut
tidak berfungsi, maka lama-kelamaan hilang atau aus tanpa disadari.
Contoh :
Makan
semula memakani diri;
Tidur
semula menidurkan diri;
Demikian juga: pergi, bangun, minum, dan
sebagainya.
Dalam
hubungannya dengan fungsinya sebgai prediket dalam kalimat, maka kata kerja
dapat dibedakan atas kata kerja transitif
dan kata kerja intransitif. Kata
kerja transitif adalah kata kerja yang memerlukan objek langsung, seperti:
menulis, membeli, menjaga , mendirikan, diambil, dibawa, dipukul, dan
sebagainya. Kata kerja intransitif adalah kata kerja yangg tidak memerlukan
objek langsung, seperti: menangis, meludah, melangkah, berjanji, bekerja,
terkejut, dan sebagainya. Di samping beberapa macam kata kerja seperti yang
telah disebutkan di atas, berdasarkan arti yang dimilikinya, kita mengenal juga
kata kerja resiproque ( resiprok),
yaitu kata kerja yang menyatakan arti berbalas-balasan. Misalnya: berpelukan,
berpandangan, pukul-memukul, tolong-menolong, berkejar-kejaran,
bercubit-cubitan, dan sebagainya.
Sebagai
pegangan untuk menentukan bahwa suatu kata disebut kata kerja, maka berikut ini
adalah ciri-cirinya.
a.
Kata
jadian yang dibentuk oleh afiks me-, di-, ber-, ter-, me-kan, di-kan, ber-an,
memper-kan, diper-kan, memper-i, diper-i, dicalonkan sebagai kata kerja.
b.
Pada
umumnya jarang atau tidak pernah menduduki posisi awal kalimat.
c.
Tidak
dapat berdiri di belakang kata depan.
d.
Dapat
didahului kata keterangan aspek, seperti: telah, sedang, akan, hampir, segera,
dan sebagainya.
e.
Dapat
diperluas dengan menambahkan kata dengan
+ kata sifat. Misalnya: berjalan dengan hati-hati, tersenyum dengan manis,
atur dengan baik, dan sebagainya.
f.
Hampir
tidak pernah menduduki subjek dalam kalimat.
Berdasarkan
uraian di atas, kita dapat membedakan kata kerja, atas kata kerja yang berupa:
1.
Kata
asal atau kata dasar: makan, minum, tidur, bela, tutup, bangkit, dan
sebagainya.
2.
Kata
jadian atau kata turunan: menangis, membaca, berjalan, dikirim, tertawa,
memperingati, diperlakukan, dan sebagainya.
3.
Kata
ulanga: duduk-duduk, jalan-jalan, mengangguk-angguk, bantu- membantu, dan
sebagainya.
4.
Kata
majemuk ( kata majemuk berimbuhan): membabi buta, bersimaharaja,
menyebarluaskan, menyalahgunakan, dan sebagainya.
2.6.3
Kata sifat (
Adjektiva)
Kata sifat
adalah kata yang menjelaskan kesifatan atau keadaan suatu benda atau yang
dibendakan. Batasan ini meminta kepada kita untuk berhati-hati dalam menentukan
kata mana yang termasuk kata sifat, dan mana yang tidak termasuk kata sifat.
Kata baru dan rotan dalam hubungannya dengan kursi
baru dan kursi rotan, sama-sama
menenrangkan kata benda “kursi”. Demikian juga batu dalam kelompok kata tembok
batu dan es batu, sama-sama
menerangkan atau menjelaskan kata benda. Tapi bentulkah semuanya kata sifat?
Tentu saja tidak. Karena kata rotan
dalam kursi rotan dan batu dalam tembok batu, tidak menerangkan kesifatan kata benda. Dalam bahasa
Indonesia, kata-kata semacam ini disebut pertalian
antara kata benda dengan kata benda. Contoh lain adalah: buku cerita, cat
air, lantai ubin, pantai karang, dan sebagainya. Karena sama-sama menerangkan
kata benda, maka kata sifat maupun pertalian antara kata benda dengan kata
benda, pada umumnua letaknya di belakang kata benda yang diterangkannya.
Adapun ciri-ciri
yang dimiliki oleh kata sifat, antara lain:
a.
Dapat
mengambil bentuk se + reduplikasi + nya
: setinggi-tingginya, semudah-mudahnya, sekurang-kurangnya, sejauh-jauhnya,
seadil-adilnya, dan sebagainya.
b.
Dapat
dibentuk dengan prefiks ter- yang berarti paling
: terkaya, tertinggi, terluas, terpanjang, terendah, dan sebagainya.
c.
Dalam
pemebentukan frase, kata sifat dapat didahului kata agak, sangat, paling, lebih, cukup, dan dapat diikuti oleh kata
sekali: agak bagus, sangat luas, paling kurang, lebih baik, cukup banyak, enak
sekali, dan sebagainya.
Menurut
bentuknya, kata sifat dapat berupa:
1.
Kata
asal atau kata dasar: manis, mulia, subur, rusak, sakit, rendah, dan
sebagainya.
2.
Kata
jadian berimbuhan : menarik, terkenal, berharga, terhotmat, mengiurkan, dan
sebagainya.
3.
Kata
ukang: murah-murah, manis-manis, riuh-rendah, sunyi-senyap, setinggi-tingginya,
dan sebagainya.
4.
Frase
atau kelompok kata: sangat mahal, jauh sekali, panjang akal, tahan uji, buruk
sangka, dan sebagainya.
5.
Kata
serapan atau kata pungut : amoral, asosial, pancasilais, produktif, dan
sebagainya.
Selanjutnya,
dalam hubungannnya dengan kalimat, kata sifat dapat menduduki beberapa fungsi.
Dengan bantuan kata atau imbuhan tertentu, kata sifat dapat menduduki fungsi
sebagai subjek dalam kalimat. Sudah barang tentu, setelah menduduki jabatan
subjek atau setelah ditambah dengan kata tugas atau imbuhan, mengalami
transposisi menjadi kata benda.
Contoh :
-
Yang benar, sulit dicari.
-
Luasnya seratus meter
persegi.
-
Merah itu tanda berani.
Selain
dapat menduduki fungsi subjek, kata sifat dapat juga menduduki fungsi prediket
dalam kalimat, baik secara infersif maupun secara logis. Dalam fungsinya yang
demikian, maka antara kata benda atau yang dibendakan(subjek) dengan kata sifat
yang mendududki fungsi prediket, tidak boleh diantarai kata tugas yang. Sebab kalau diantarai kata tugas yang, kata sifat tersebut akan bertindak
sebagai atributif, yang fungsinya mengikuti kata benda yang diterangkannya.
Bandingkan kalimat kelompok A dan B berikut :
|
A.1.
Pakaiannya bagus sekali.
|
B.1.
Pakaiannya yang bagus sekali itu hilang.
|
|
2.
Adik saya sakit.
|
2.
Adik saya yang sakit itu pandai menari.
|
|
3.
Harga sepatu mahal sekali.
|
3.Harga
sepatu yang mahal sekali itu, tak terjangkau olehku.
|
Pemakaian
kata sifat secara infersif, pada umumnya memulai suati kalimat. Oelh karena
infersif, maka letaknya selalu didepan subjek.
Contoh :
-
Manis tutur katanya.
-
Cerdas pikirannya.
2.6.4
Kata Ganti (
Pronomina)
Kata ganti
adalah semua kata yang dipakai untuk menggantikan benda atau sesuatu yang
dibendakan. Menurut fungsinya, kata ganti dapat dibedakan atas:
a.
Kata ganti orang
Kata ganti orang
dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1.
Kata
ganti orang pertama:
-
Tunggal : aku, saya
-
Jamak : kami, kita
2.
Kata
ganti orang kedua :
-
Tunggal : engkau, anda,
kamu
-
Jamak : kalian, kamu
3.
Kata
ganti orang ketiga
-
Tunggal : ia, dia,
beliau
-
Jamak : mereka
Kata
ganti seperti aku, engkau, dan kamu,
masing-masing dapat diambil bentuk ringkasnya, yaitu ku, kau, mu. Dalam pemakaiannya, kata ganti yang mengambil bentuk
ringkasnya itu selalu diikatkan pada kata yang mendahului atau yang
mengikutinya, baik sebagai milik ( posessiva) seperti bukuku, bajuku, ayahmu, rumahmu ; maupun sebagai pelaku ( agensif)
seperti kuambil, kubeli, kaubawa,
kausimpan, dan sebagainya. Pemakaian kata ganti orang dalam kedua bentuk
diatas (posesif dan agensif), disebut klitiksasi.
Klitiksasi pada kata ganti yang menyatakan posesif, oleh karena letaknya di
akhir kata, disebut enklitik.
Sedangkan klitiksasi pada kata ganti yang menyatakan agensif, oleh karena
letaknya di awal kata, disebut proklitik
atau preklitik. Perlu diingat, bahwa proses klitiksasi pada kata ganti
hanyalah yang mengambil bentuk ringkasnya. Bentuk klitik yang lain, misalnya pun pada kendatipun, walaupun, meskipun ; lah pada ialah, adalah.
Meskipun
berdasarkan pesonanya kita telah membedakan kata ganti atas diri pertama, kedua,
dan ketiga, serta bentuk jamak dan tunggal, namun sering kita jumpai pemakaian
yang menyimpang dari pembagian tersebut. Kata kami misalnya, yang sebenarnya adalah kata ganti orang kesatu
jamak, sering digunakan sebagai kata ganti orang kesatu tunggal, untuk
menyatakan hormat atau pertimbangan sopan santun. Demikian juga kata kamu yang sebenarnya adalah kata ganti
orang kedua jamak, namun sering digunakan sebagai kata ganti kedua tunggal,
karena pengaruh emosional. Penympangan pemakaian kata ganti seperti kedua
contoh diatas, dalam bahasa disebut pluralis
majestatis.
Untuk
memperjelas uraian di atas, perhatikan bagan berikut:
|
Bentuk
|
Orang I
|
Orang II
|
Orang III
|
|||
|
Fungsi
|
Tunggal
|
Jamak
|
Tunggal
|
Jamak
|
Tunggal
|
Jamak
|
|
Pelaku(agensif)
|
Saya
Aku
Ku-
|
Kami
Kita
|
Engkau
Kamu
Anda
Kau
|
Kalian
Kamu
|
Ia
Dia
Beliau
|
Mereka
Di
Nya
|
|
Milik (posesif)
|
Saya
-ku
|
Kami
Kita
|
Kamu
-mu
Anda
|
Kalian
-mu
|
-nya
Dia
Beliau
|
Mereka
-nya
|
b.
Kata ganti milik
( posesif)
Kata ganti milik adalah kata ganti yang
menyatakan fungsinya sebagai pemilik. Dalam pemakaiaannya dapata mengambil
bentuk ringkas dan dapat mengambil bentuk sempurna. Yang mengambil bentuk
riskas ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya, sedangkan yang
m,engambil bentuk sempurna di tulis di belakang benda yang menjadi miliknya.
Contoh :
pikiranku, uangmu, bukunya, tasku, adik saya, persoalan mereka, tas beliau,
rumah kami, masalah kita, dan sebagainya.
Lihat uraian
mengenai kata ganti orang.
c.
Kata ganti
tunjuk( demostratif)
Kata ganti
tunjuk adalah kata ganti yang berfungsi untuk menunjuk sesuatu. Berdasarkan
sifat letak benda atau sesuatu yang di tunjuk, bahasa indonesia mengenal tiga
macam kata ganti tunjuk, yaitu:
1.
Untuk
menunjuk sesuatu yang dekat : ini, sini.
2.
Untuk
menunjuk sesuatu tang agak jauh : itu, situ.
3.
Untuk
menunjuk sesuatu yang jauh : ana, sana.
Berbeda dengan
kata ganti tunjuk ini dan itu, maka kata ganti tunjuk ana sudah tidak digunakan lagi, dan
diganti oleh kata ganti tunjuk sana,
yang lebih cenderung pada penuntukan tempat. Demikian juga sini dan situ.
d.
Kata ganti
penghubung ( relatif)
Kata ganti
penghubung atau relative pronoun
adalah kjata ganti atau kata yang berfungsi untuk menghubungkan anak kalimat
dengan induk kalimat. Hubungan yang dinyatakannnya berupa penggantian sebuah
kata atau lebih, yang terdapat pada induk kalimat. Kata ganti penghubung yang
umum dalam bahasa Indonesia adalah yang,
tempat, dan waktu. Hubungan yang
dinyatakan oleh kata ganti penghubung yang,
berupa penggantian kata benda yang terdapat pada induk kalimatnya.
Contoh :
1.
Buku
yang disampul itu mahal harganya.
Kalimat majemuk tersebut, dibentuk dari
kalimat dasar :
a.
Buku
itu disampul.
b.
Buku
itu mahal harganya.
Jadi kata yang pada kalimat I di atas,
menggantikan kata ‘buku itu” yang terdapat pada kalimat b, karena kalimat b-lah
yang berfungsi sebagai induk kalimat dalam kalimat majemuk I di atas.
Akan
tetapi sifat hubungan itu kadang-kadang tidak terasa, dan akhirnya berubah
sebagai pengganti atau penentu. Hal ini dapat kita lihat dalam contoh dibawah
ini.
2.
Yang baik disimpan, yang jelek dibuang.
3.
Yang benar ditiru.
4.
Yang slaah
dihindari.
Adapun hubungan
yang dinyatakan oleh kata ganti penghubung tempat,
berupa penggantian kata keterangan tempat.
Contoh :
5.
Rumah
tempat mereka tinggal, terbakar
habis.
Kalimat
dasarnya adalah :
a.
Mereka
tinggal di rumah.
b.
Rumah
itu terbakar habis.
Jadi, kata tempat pada kalimat 5 di atas
menggantikan kata rumah itu pada
kalimat b, dan sekaligus menghubungkan anak kalimat a dengan induk kalimat b.
Karena
pengaruh bahasa asing, sering kita jumpai pemakaian kata di mana sebagai ganti dari kata tempat
yang diterjemahkan dari kata where.
Selanjutnya, pemakaian kata di mana
dalam pengertian yang demikian, sebagai kata ganti penghubung, adalah salah.
Contoh lain :
6.
Sekolah
tempat mereka belajar, bertingkat.
7.
Meja
tempat saya menulis, rusak berat.
Sedangkan hubungan yang dinyatakan oleh kata ganti
penghubung waktu, berupa penggantian
terhadap kata keterangan waktu.
Contoh :
8.
Kemarin
sore, waktu saya belajar, dia datang.
Kalimat dasarnya
adalah :
a.
Kemarin
sore ia datang.
b.
Kemarin
sore saya belajar.
Seperti halnya
kata ganti penghubung yang, kata
ganti penghubung waktu fungsinya sebagai
pengganti begitu tegasnya, sehingga sering dipakai sebagai penunjuk langsung
terhadap kata keterangan waktu dalam
suatu kalimat.
Contoh :
9.
Waktu
saya datang, dia pergi.
10.
Waktu
Gunung Merapi meletus, dia lahir.
e.
Kata ganti tanya
( introgatif)
Kata ganti tanya atau interrogative pronoun adalah kata yang
digunakan untuk menanyakan sesuatu. Dilihatr dari isis pertanyaannnya, maka
kata ganti tanya dapat dibedakan atas: pertanyaan mengenai benda(apa),
orang(siapa), tempat ( di mana), waktu (bilamana, kapan, bila), jumlah (
berapa), tujuan ( ke mana), asal ( dari mana), keadaan( bagaimana), suatu
peristiwa( ada apa, mengapa), alat ( dengan apa)m pemilihan atau penentuan(
mana, yang mana, yang bagaimana).
f.
Kata ganti tak
tentu ( indeterminatif)
Kata ganti tak
tentu adalah kata yang menggantikan benda atau orang, secara tidak tentu. Kata
ganti tidak tentu yang biasa digunakan dalam bahasa Indonesia adalah: sesuatu,
seseorang, masing-masing, para, semua, beberapa, siapa saja, apa-apa,
tiap-tiap. Kadang-kadang sifat ketidaktentuan itu begitu jelas, sehingga kita
perlu berhati-hati dalam memakainya. Perhatikan kalimat berikut:
1.
Saya
sedang memikirkan sesuatu persoalan.
Kalimat diatas
oleh karena predikatnya memerlukan objek atau diikuti oleh objek yang sudah
tentu, maka pemakaian kata sesuatu di
situ, adalah pemakaian yang salah. Kata sesuatu tidak boleh diikuti oleh objek
atau benda tertentu, berbeda dengan suatu. Bukan sesuatu peristiwa, sesuatu hari, melainkan suatu peristiwa dan suatu hari, dan sebagainya.
Disamping
itu perlu kita perhatikan bahwa kata beberapa,
semua, para, sekalipun merupakan kata ganti tak tentu, namun masing-masing
menyatakan bentuk jamak. Oleh karena itu kata-kata tersevbut tidak boleh
dipakai bersama-sama dengan kata ulang yang menyatakan jamak. Misalnya : para
orang-orang, beberapa murid-murid, semua sekolah-sekolah.
Contoh lain
pemakaian yang salah darikata ganti tak tentu:
2.
Arif
adalah seseorang yang pandai.
3.
Masing-masing
Ali dan Hasan, kurang menyadari kesalahannnya, kecuali: Masing-masing, Ali dan
Hasan, kurang menyadari kesalahannya. Karena kata-kata yang diapit oleh tanda
koma” Ali dan Hasan” dalam kalimat ini berfungsi sebagai aposisi atau
keterangan tambahan, maka kata ganti tak tentu “ masing-masing” tersebut tidak
secara langsung diikuti oleh orang atau sesuatu yang digantikan secara tentu.
2.2.5 Kata
Keterangan ( Adverbia)
Di
dalam uraian mengenai kata sifat, kita telah membicarakan bahwa kata sifat dan pertalian antara kata benda dengan kata benda, merupakan kata
keterangan yang menerangkan mengenai kata benda. Oleh karena itu yang dimaksud
“ kata keterangan” dalam sub-sub ini, adalah kata yang menerangkan selain kata
benda. Mungkin kata kerja, kata sifat, kata keterangan itu sendiri dan mungkin
kata yang lain.
Berdasarkan
bentuknya, kata keterangan dapat dibedakan atas:
a.
Kata
keterangan yang berupa kata asal atau kata dasar: sangat, agak, akan, sudah,
paling, dan sebagaianya.
b.
Kata
keteranagn yang berupa kata berimbuhan: kiranya, sesungguhnya, sesudah,
bersama, bagaikan, dan sebagainya.
c.
Kata
keterangan yang berupa kata gabung atau kata mejemuk: siang malam, kurang
lebih, sepanjang masa, dan sebagainya.
Adapun
dilihat dari arti yang dimilikinya, bukan dilihat dari bentuk atau jenis kata
yang diterangkannya, kata keterangan dapat dibedakan menjadi:
a.
Kata keterangan
tempat
; yaitu kata yang menerangkan tempat terjadinya suatu peristiwa, atau tempat
beradanya sesuatu. Dalam bahasa indonesia kata keterangan ini dinyatakan oleh
kata depan di, pada (untuk orang),
dan dalam, yang diikuti olrh kata
benda, seperti: disini, di rumah, di jakarta, pada saya, pada Ahmad, pada ayah,
dalam lemari, dalam tas, dalam rumah, dan sebagainya. Dalam perkembangan
selanjutnya, kita kemudian mengenal juga kata keterangan tempat yang dinyatakan
oleh kata depan ke sebagai tempat tujuan, seperti: ke sekolah, ke luar kota, ke
sawah, dan sebagainya; dan yang dinyatakan oleh kata depan dari sebagai tempat
asal, seperti: dari pasar, dari toko, dari luar negeri, dari rumah, dan
sebagainya.
b.
Kata keteranngan
waktu
; yaitu kata yang menerangkan waktu berlangsungnya atau terjadinya suatu
peristiwa. Misalnya: sekarang, kemarin, besok, minggu yang lalu, bulan depan,
pagi, malam, baru saja, nanti, setiap saat, sejak kemarin, dan sebgaainya.
c.
Kata keterangan
kecaraan atau modalitas ; yaitu kata yang menerangkan sikap pembicara atas
berlangsungnya suatu peristiwa atau kejadian, dalam bentuk:
1.
Kepastian
: pasti, jelas, niscaya, bukan, tidak, dan sebagainya.
Kata” bukan” menyatakan kepastian
pengingkaran terhadap kata benda, sedangkan kata “ tidak “ menyatakan kepastian
pengingkaran kata selain kata benda.
Contoh :
-
Orang
itu bukan adik saya.
-
Bukan buku yang
dibeli.
-
Mereka
tidak pergi hari ini.
-
Merokok
itu tidak baik.
Namun
dalam pemakaian sehari-hari, sering kita jumpai pemakaian kata “bukan” yang
dinyatakan untuk mengingkari selain kata benda. Bahkan kata “bukan” dan “tidak”
sering juga dipakai bersama-sama dalam suatu kalimat.
Contoh
:
-
Itu
bukan menangis namanya, melainkan
tertawa.
-
Toko
itu bukan menjual barang keperluan sehari-hari saja, tetapi juga keperluan
kantor.
-
Saya
bukan tidak mau, melainkan tidak
tahu.
-
Orang
tua itu bukan tidak percaya pada
anaknya, melainkan tidak tega.
2.
Pengakuan:
memang, benar, bahkan, ya, betul, dan sebagainya.
Kata “betul” dan “benar” seklaipun
bersinonim, namun dalam pemakaiannya, keduanya dapat mendukung makna yang
berbeda. Perhatikan kedua kalimat di bawah ini.
-
Guru
membenarkan jawaban muridnya.
-
Guru
membetulkan jawaban muridnya.
Pada
kalimat pertama, kata “ membenarkan” berarti mengatakan benar atau menyetujuinya,
sedang kata “membetulkan” pada kalimat kedua, berarti membuat jadi betul. Jadi pada kalimat pertama, sifat yang
dinyatakan oleh kata dasarnya sudah ada, sedangkan pada kalimat kedua, sifat
yang dinyatakan oleh kata dasarnya belum ada.
3.
Kesangsian
: agaknya, barangkali, mungkin, jangan-jangan, kira-kira, kalu-kalau, dan sebagainya.
4.
Keinginan
: semoga, mudah-mudahan, bisalah kiranya, sekiranya dan sebagainya.
5.
Ajakan
: mari, ayo, hendaknya, baik, dan sebagainya.
6.
Larangan
: jangan, jangan sampai, jangan sekali-kali, dan sebagainya.
7.
Keheranan
: astaga, masakan, aman bisa, dan sebagainya.
d.
Kata keterangan
aspek
; yaitu kata yang menerangkan berlangsungnya suatu peristiwa atau kejadian
secara objektif. Atau dengan kaat lain, kata keterangan aspek adalah kata yang
menerangkan posisi atau kedudukan (status) suatu perbuatan atau
kejadian/peristiwa. Bukan menerangkan berlangsungnya suatu peristiwa/kejadian
atau perbuatan dalam suatu ruang waktu – seperti yang dinyatakan oleh
keterangan waktu.
Berdasarkan arti
yang dimilikinya serta fungsi yang dinyatakannya, kata keterangan aspek dapat
dibedakan atas:
1.
Keterangan
aspek inkoatif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa masih dalam taraf
permulaan:
-
Pembangunan
pun dilaksanakan.
-
Anak
itu pun belajarlah.
2.
Keterangan
aspek duratif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa sedang dalam proses
terjadinya: sedang, tengah, sementara.
3.
Keterangan
aspek perfektif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa telah terjadi: telah,
sudah, baru (saja).
4.
Keterangan
aspek momental ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa yang terjadi dalam
waktu singkat: tiba-tiba, sekonyong-konyong, mendadak.
5.
Keterangan
aspek repetitif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa terjadi berulang kali
atau lebih dari satu kali. Kata keterangan aspek jenis ini, dinyatakan oleh
kata ulang yang mengandung makna intensitas : menggeleng-geleng, mengangguk,
angguk, melambai-lambai, dan sebagainya.
6.
Keterangan
aspek frekuentatif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa sering terjadi :
sering.
7.
Keterangan
aspek kontinuitas ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa selalu terjadi ;
selalu, terus, terus-menerus.
8.
Keterangan
aspek futuratif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa akan terjadi: akan,
hendak.
9.
Keterangan
aspek habituatif ; yaitu menerangkan bahwa suatu peristiwa biasa terjadi :
biasa.
e.
Kata keterangan
kualitatif
; yaitu kata yang menerangkan keadaan atau pelaksanaan atau terjadinya suatu
peristiwa atau perbuatan. Misalnya:
-
Ia
mengerjakan soal itu dengan
sungguh-sungguh.
-
Percobaan
itu dikerjakan dengan teliti.
-
Didorongnya
pintu itu kuat-kuat.
f.
Kata keterangan
derajat atau kuantitatif ; yaitu kata yang menerangkan derajat atau jumlah
suatu peristiwa atau perbuatan dilakukan atau terjadi: hampir, cukup, sedikit,
hanya, satu kali, dua kali, beberapa kali, dan sebagainya.
g.
Kata keterangan
alat
; yaitu kata yang menerangkan, dengan apa suatu peristiwa terjadi atau
dilakukan. Misalnya :
-
Orang
tua itu menangkap ular dengan tenaga
dalam.
-
Ibu
memotong roti dengan pisau dapur.
-
Orang
itu menyebrangi sungai selebar itu hanya dengan
sebatang kayu.
h.
Kata keterangan
syarat
; yaitu kata keterangan yang menerangkan bahwa suatu peristiwa atau kejadian,
berlangsung di bawah syarat-syarat tertentu : jika, seandainya, kalau ,
apabila.
Dalam perkembangan
selanjutnya, sering kita jumpai pemkaian kata “ jikalau” untuk menyatakan
keterangan syarat. Apabila kita lihat strukturnya, kata tersebut sebenarnya
merupakan bentukan kontaminasi dari kata :” jika” dan “ kalau” yang
masing-masing mempunyai makana yang sama. Oleh karena itu, bentuk yang demikian
ini adalah bentuk yang salah.
i.
Kata keterangan
sebab
; yaitu kata yang menerangkan sebab atau mengapa suatu peristiwa terjadi:
sebab, karena, oleh sebab, oleh karena, dan sebagainya.
j.
Kata keterangan
akibat
; yaitu kata keterangan yang menerangkan bahwa suatu peristiwa terjadi akibat
berlangsungnya peristiwa yang lain : sehingga, maka, oleh sebab itu, oleh
karena itu, akibatnya, dan sebagainya.
k.
Kata keterangan
perwatakan
; yaitu kata yang menerangkan atau menunjukkan batas-batas tertentu yang
terlibat dalam suatu peristiwa atau kejadian: kecuali, hanya, selain. Misalnya:
-
Semua
anak ikut berdarmawisata kecuali yang
sakit.
-
Mereka
kelihatan rajin, hanya Ali yang malas.
-
Peralatan
rumah tangganya dibuat sendiri, selain
barang pecah belah.
l.
Kata keterangan
penyerta
; yaitu kata yang menerangkan bahwa sesuatu atau seseorang ikut srrta dalam
suatu peristiwa atau perbuatan: serta, dengan, bersama.
m.
Kata keterangan
tujuan
; yaitu kata yang menerangkan tujuan atau sesuatu yang hendak dicapai oleh
suatu perbuatan : untuk, supaya, agar, guna, buat.
2.6.6
Kata Bilangan (
Numeralia)
Kata bilangan
adalah semua kata yang menyatakan jumlah, kumpulan, dan urutan atau tingkatan
suatu benda atau sesuatu yang dibendakan.
Berdasarkan sifat yang dimilikinya, kita
dapat membedakan kata bilangan atas:
a.
Kata
bilangan utama: satu, dua, tiga, empat, lima, dan seterusnya.
b.
Kata
bilangan tingkat : kesatu, kedua, kelima, kesembilan, keseratus, dan sebagainya.
c.
Kata
bilangan kumpulan : kedua, ketiga, kelima belas, kedua puluh, dan sebagainya.
d.
Kata
bilangan himpunan: satu-satu, dua-dua, lima-lima, sepuluh-sepuluh, dams
ebgaianya.
e.
Kata
bilangan tak tentu : semua, sekalian, beberapa, tiap-tiap, masing-masing, dan
sebagainya.
Dari contoh
diatas, kita memang tidak dapat membedakan antara kata bilangan kumpulan dengan
kata bilangan tingkatan. Sebab, berdasarkan pedoman
umum ejaan yang disempurnakan, keduanya mempunyai sistem penulisan yang
sama. Akan tetapi dalam hubungannya dengan kalimat, keduanya menunjukkan ciri
yang berbeda. Sebab kata bilangan kumpulan letaknya pasti di depan kata benda,
sedangkan kata bilangan tingkatan letaknya pasti di belakang kata benda atau
yang dibendakan.
Khusus mengenai
kata bilangan tak tentu, seperti beberapa, semua, dan sekalian, oleh karena itu
ketiganya menunjukkan arti banyak ( tak tentu), maka kata-kata tersebut tidak
boleh dipakai bersama-sama dengan kata ulang yang berarti intensitas
kuantitatif seperti: buku-buku, anak-anak, meja-meja, rumah-rumah, dan
sebagainya. Misalnya :
-
Semua
buku-bukunya disampul rapi.
-
Saudara-saudara
sekalian, kita . . .
-
Beberapa
anak-anak, datang terlambat.
Kadang-kadang
dlam pemakaiannya, kata bilangan memerlukan kata bantu tertentu sesuai dengan
macam benda yang disebutkannya, terutama dalam menunjukkanj jumlah. Kata yang
membantu kata bilangan dalam menunjukkan macam atau jenis benda yang disebutkan
itu, dinamakana kata bantu bilangan.
Misalnya: sepucuk surat, sebentuk cincin, sebilah pisau, seutas tali, selembar
kain/uang, sebutir telur, setangkai bunga, serumpun bambu/bunga, seekor
kerbaui, sebidang tanah, seulas senyum, dan sebagainya.
2.6.7
Kata sambung
atau Kata Penghubung (Conjuctive)
Kata
sambung adalah kata yang menghubungkan kata/kelompok kata/kalimat yang satu
dengan kata/kelompok kata/kalimat yang lain, dan sekaligus menunjukkan jenis
atau macam hubungannya.
Berdasarkan
sifat atau macam hubungan yang dinyatakannya, kata penghubung atau kata sambung
dapat dibedakan atas:
a.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan penggabungan: dan, lagi, pula, serta,
dengan, lagi pula, dan sebagainya.
b.
Kata
penghubungan yang menyatakan hubungan penentangan: tapi, tetapi, namun,
melainkan, akan tetapi, dan sebgaianya.
c.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan waktu: waktu, ketika, sesudah, sebelum,
sejak, selama, bila, dan sebagainya.
d.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan penujuan : supaya, agar, biar, untuk, dan
sebagainya.
e.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan sebab : sebab, karena, oleh karena, oleh
sebab.
f.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan akibat: maka, sehingga, sampai , oleh
karena itu, oleh sebab itu.
g.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan persyaratan : kalau, juka, asalkan, asal,
seandainya, dan sebagainya.
h.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan pemilihan : atau,
atau...atau...,...maupun....entah....entah....,... apa... dan sebagainya.
i.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan pembandingan : seperti, laksana, bagaikan,
serasa, seakan-akan, bagai, dan sebgaianya.
j.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan peningkatan : makin, makin...makin...,
kian...kian..., dan sebagainya.
k.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan lain dari semestinya atau perlawanan:
meskipun, walaupun, biarpun, kendatipun, dan sebagainya.
l.
Kata
penghubung yang menyatakan hubungan penjelasan atau menerangkan.kopula : ialah,
yaitu, yakni, dan sebagainya.
Namun demikian
perlu kita ketahui, bahwa bentuk hubungan dalam suatu kalimat, baik antar
kelompok kata maupun antar kalimat dalam kalimat majemuk, tidak selalu
dinyatakan oleh kata penghubung. Ada kalanya, kalimat dengan susunan tertentu
atau dengan pemakaian tanda baca tertentu, telah menunjukkan adanya hubungan
tertentu pula. Perhatikan hubungan yang demikian, dikatakan secara implisit
atau tersirat, perhatikan kalimat berikut:
-
Pagi
hari ia ke Bandung, siang ke jakarta, malam ke Surabaya.
-
Ia
sendiri pandai, adiknya kurang.
-
Ibunya
datang dari pasar, ayahnya berangkat ke kantor.
Disamping yang
telah disembutkan diatas, bahkan untuk menyatakan hubungan antar kalimatdalam
suatu paragraf , sering dipakai jenis kata lain atau imbuhan tertentu.
Perhatikan contoh berikut ini!
Anak
itu bernama Burhan. Ayahnya dulu
seorang seniman kenamaan. Karya –karyanya sering mendapat penghargaan dari
dalam maupun luar negeri. UNESCO umpamanya,
pernah memberikan penghargaan atas cerita pendeknya. Hal itu diketahuinya dari
buku harian bapaknya yang ditemukan.
Semua kata atau
imbuhan ( kata ganti) yang dicetak miring, menunjukkan adanya hubungan antar
kalimat atau bahkan antar paragraf.
2.6.8
Kata Depan(
Preposisi)
Kata
depan yang disebut juga kata perangai, adalah kata yang berfungsi untuk
merangkaikan kata/kelompok kata yang satu dengan kata/kelompok kata yang lain
dalam suatu kalimat, dan sekaligus juga menentukan macam arau jenis
hubungannya. Pada umumnya, kata depan merangkaikan kata benda atau yang
dibendakan dengan jenis kata yang lain. Dan oleh karena fungsinya sebagai kata,
maka penulisannya harus selalu dipisahkan dengan kata lain yang mengikutinya.
Disamping fungsi
umum yang dimilikinya seperti yang telah disebutkan dalam batasan diatas, yaitu
merangkaikan kata benda dengan kata lain, kata depan secara khusus juga
mempunyai beberapa fungsi. Antara lain:
a.
Untuk
menyatakan tempat : di, ke, dari, pada ( untuk orang), antara, atas, dan
sebagainya.
b.
Untuk
menganrat objek tak langsung: untuk, bagi, akan, tentang, buat, kepada , dan
sebagainya.
Selanjutnya,
melihat arti yang didukungnya dan melihat fungsi yang dimilikinya, maka kata
depan tidak boleh dipakai sebagai pengantar subjek dalam kalimat. Sebab, subjek
yang diberi berpengantar kata depan, akan hilang ciri dan sifatnya sebagai
subjek. Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini.
-
Bagi para pelajar
sangat memerlukan ketenangan dalam belajar.
-
Setiap
hari sabtu di sekolah kami,
mengadakan latihan olah raga.
-
Dalam buku itu
menceritakan perjuangan kaum wanita dimasa revolusi.
Dari contoh
diatas, jelaslah bahwa ”para pelajar” , “sekolah kami”, dan “buku itu” yang
masing-masing berfungsi sebagai subjek, tetapi oleh karena didahului oleh kata
depan, maka fungsi yang dimilikinya berubah, dan kalimat itu menjadi kalimat
yang salah. Akibatnya, apabila kita ingin tetap mempertahankan pemakaian kata
depan-kata depan tersebut, dan sekaligus hendak membentuk ketiga kalimat diatas
menjadi kalimat yang benar maka kita harus mengangkat sebuah subjek baru,
dengan jalan mengubah bentuk kata yang berfungsi sebagai prediket. Atas dasar
itu, maka akan kita jumpai kalimat sepseri di bawah ini.
-
Bagi
para pelajar, sangat diperlukan
ketenangan dalam belajar.
-
Setiap
hari Sabtu, di sekolah kami diadakan
latihan olah raga.
-
Dalam
buku itu diceritakan perjuangan kaum
wanita di masa revolusi.
Dengan demikian,
maka” ketenangan dalam belaja”, “latihan olah raga”, dan “ perjuangan kaum
wanita di masa revolusi”, berfungsi sebgai subjek dalam masing-masing kalimat
tersebut.
Adapun dilihat
dari nentuknya, kata depan dapat dibedakan atas:
a.
Kata
depan yang berupa kata tunggal (asal) : di, ke, dari, pada, tentang, atas,
akan, untuk, pada, dan sebagainya.
b.
Kata
depan yang berupa gabungan kata: di dalam, kepada, daripada.
c.
Kata
depan yang berasal dari jenis kata lain, yang pada umumnya adalah kata kerja:
menurut, mengingat, mengenai, melalui, sampai, dan sebagainya.
Akan tetapi dari
kata depan-kata depan tersebut, ada beberapa yang sifatnya ambivalen, yang artinya disamping sebagai kata depan, dalam
hubungannnya dengan kalimat, juga menduduki jenis kata lain. Atau dengan kata
lain kata yang bersifat ambivalen adalah kata yang memiliki lebih dari satu
fungsi. Berikut ini adalah beberapa contoh kata depan yang bersifat ambivalen.
-
Anak
itu lupa akan tugasnya(pengantar
objek).
-
Persoalan
itu akan diselesaikan besok(
menyatakan aspek futuratif).
-
Mereka
datang dengan mobil sewaan(
menyatakan alat/keterangan alat).
-
Kemarin
ayah pergi keluar negeri dengan adik
( pengantar objek).
-
Ada
beberapa peristiwa penting dalam
minggu ini( keterangan waktu).
-
Sumur
di belakah rumah itu dalam sekali(
menyatakan sifat).
2.6.9
Kata Sandang (
Artikula)
Kata sandang,
adalah kata yang berfungsi sebagai penentu, yang ketaknya di depan kata benda
atau yang dibendakan, atau di depan kata sifat. Hanya ada beberapa kata sandang
dalam bahasa indonesia, yang masih sering digunakan. Yaitu si, sang, yang, dan para.
Dalam bahasa melayu, khususnya dalam kekusastraan lama, kita temui beberapa
kata sandang seperti : dang, hyang, hang,
dan sri.
Adapun ari yang
dapat didukung oleh kata sandang , antara lain:
a.
Pengakraban
:
-
Si maman baru saja
datang dari luar kota.
-
Titip
salam untuk sang istri.
-
Cepat
pulang , yang dirumah sudah menunggu.
b.
Penghormatan
:
-
Berkibarlah
Sang merah putih dengan megahnya.
-
Semua
itu, terserah pada Yang Mahakuasa.
c.
Mengejek
:
-
Awas,
hati-hati dengan si hidung belang.
-
Lihat,
sang suara sedang beraksi di atas
panggung.
d.
Banyak
tak tentu:
-
Sumbangan
itu akan diberikan kepada para korban
bencana alam.
-
Ketekunan
dan kedisiplinan sangat diperlukan bagi para
pelajar.
-
Para ilmuwan diharap
lebih menekuni dan mendalami bidangnya.
Menilik arti
yang dimilikinya, maka kata sandang “para’ tidak boleh dipakai di depan kata
ulang yang menyatakan arti intensitas kuantitatif, seperti pelajar-pelajar,
anak-anak, guru-guru, pedagang-pedagang, dan sebagainya.
Selanjutnya,
berdasarkan arti dan uraian di atas , jelaslah bahwa selain kata sandang
merupakan bentuk terikat – karena tidak mempunyai arti yang pasti lepas dari
hubungannya dengan bentuk yang lain – juga tidak dapat bendiri sendiri.
Bersama-sama kata lain, kata sandang akan menduduki jabatan tertentu di dalam
kalimat yang umumnya subjek atau objek.
2.6.10
Kata Seru (Interjectio)
Kata seru atau interjectio adalah kata yang dipakai
untuk menyatakan luapan emosi atau perasaan. Ada beberapa ciri penting yang
dimiliki oleh kata seru. Pertama,
kata seru dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tak lengkap. Atas dasar inilah
maka banyak ahli bahasa yang menyatakan bahwa kata seru sebetulnya bukan lah
suatu kata, melainkan kalimat. Kedua,
kata seru tidak menduduki jabatan tertentu di dalam kalimat, dan terpisah dari
bangun kalimat yang ditempatinya. Ketiga,
kata seru dapat menyatakan luapan emosi tau perasaan yang berbeda-beda, sesuai
dengan hubungannya dalam kalimat. Keempat,
kata seru merupakan kata yang paling tua dan bersifat umum. Artinya kata seru
adalah kata yang paling dulu digunakan oleh manusia dalam proses kebahasaannya,
dan hampir semua bahasa mempunyai kata seru yang sama, misalnya : oh, ah , hai,
he.
Berikut ini
adalah beberapa contoh pemakaian kata seru sebagai kalimat dan didalam kalimat,
serta fungsi dan arti yang dinyatakannya.
a.
Aduh!
b.
Aduh,
dia lagi yang muncul.
c.
Aduh,
tingginya bangunan itu.
d.
Aduh,
bagaimana ini?
e.
Aduh,
ini anak!
Semua contoh di
atas menunjukkkan bahwa sebagai kata seru, “aduh” dapat mendukung makna yang
berbeda-beda, seperti halnya kata seru yang lain. Di samping itu, apabila kita
menganalisa kata seru dalam kelima kalimat di atas berdasarkan fungsi yang
dimilikinya, kita segera mengetahui bahwa kata seru tersebut tidak menduduki
jabatan tertentu. Sedangkan kalimat a, yang hanya terdiri dari kata seru itu
saja, dengan kalimat lain atu suasana tertentu yang melatari pengucapan kalimat
tersebut, dapat menimbulkan makna yang lebih luas atau lebih sempurna dari
bentuknya ( Aduh!). itulah sebabnya, maka kalimat a di atas, selain dapat
disebut kalimat elips( tak sempurna), dapat juga disebut kalimat seru, kalimat
terikat, dan kalimat minim.
Selanjutnya,
dalam bahasa indonesia kita mengenal tiga macam kata seru, yaitu:
a.
Kata
seru asli: ah, oh, ha, hai, bah, cih, cis, wah, dan sebagainya.
b.
Kata
seru yang berasal dari jenis kata lain dan mempunyai makna leksikal: astaga,
ampun, syukur, gila, keparat, kasihan, awas, dan sebagainya.
c.
Kata
seru yang berupa ungkapan: celaka dua belas, alhamdulillah, inalillahi,
astagfirullah, dan sebagainya.
Langganan:
Postingan (Atom)